Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara sedang melakukan registrasi kesejahteraan penduduk kepada masyarakat untuk melihat sejauh mana kondisi riilnya tingkat kesejahteraan penduduk di kabupaten ini.
“Nanti bisa terlihat dengan selesainya proses registrasi oleh Puskesos (Pusat Kesejahteraan Sosial) baik di desa maupun kelurahan saat ini. Kegiatan yang sedang kami lakukan adalah penguatan kapasitas tenaga Puskesos desa/kelurahan melalui sosialisasi terkait dengan bagaimana teknik atau cara melakukan registrasi kesejahteraan sosial tersebut. Saat ini sudah kita laksanakan di enam kecamatan yaitu di Muara Jawa, Anggana, Loa Kulu, Tenggarong, Marangkayu, Kembang Janggut dan hari ini di Samboja, besok di Tenggarong Seberang,” papar Riadi.
Pentingnya dilakukan sosialisasi kepada Puskesos karena Dinsos berperan sebagai perpanjangan tangan dari Kementerian Sosial untuk melakukan sosialisasi kepada Puskesos terkait bagaimana cara atau tekniknya memasukkan data ke dalam aplikasi yang baru yaitu Sistem Kesejahteraan Sosial-Next Generation (SIKS-NG).
Untuk bantuan yang dari Kementerian Sosial untuk penanganan kemiskinan ada beberapa jenis, diantaranya PKH atau program keluarga harapan, untuk bantuan ini yang menerima adalah masyarakat yang terdata di DTKS yang memenuhi tiga komponen, yaitu komponen kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan sosial.
Terkait dengan komponen kesehatan mencakup kriteria apakah ada memiliki anggota keluarga dengan kriteria ibu hamil/menyusui dan memiliki anak berusia 0 sampai dengan 6 tahun, kemudian dari segi pendidikan apakah memiliki anak dengan kategori pendidikan SD, SMP atau SMA sederajat, kemudian yang ketiga dari segi kesejahteraan sosial apakah memiliki keluarga lanjut usia minimal 60 tahun, Penyandang disabilitas, diutamakan penyandang disabilitas berat.
“Yang dapat PKH biasanya atas nama ibunya. Besaran santunannya pun bervariasi tergantung indikator yang dimiliki oleh tiap-tiap keluarga tadi, apakah dia ada unsur kesehatannya atau ada unsur pendidikan sedangkan untuk pendidikan ini untuk anak SD dan SMP pun itu berbeda,” tutup Riadi.
Penulis: */Muhammad Heriansyah
Editor: Aspian Nur