“Jembatan Sebulu, kalau tidak dapat pendanaan dari APBD kita upayakan harus dapat pendanaan dari luar, misal bersumber dari APBN atau dari swasta. Ya namanya kita sudah berencana ya kita harus usahakan,” kata Vanesa kepada Koran Kaltim.
Dijelaskan Nana sapaan akrab Plt Kepala Bappeda Kukar, dalam mencapai sasaran prioritas pembangunan nasional, provinsi, dan kabupaten/kota sangat dibutuhkan sinergi pusat dan daerah yang didukung dengan keterpaduan perencanaan, pelaksanaan, pengendalian dan evaluasi pembangunan.
Sinergi ini diterjemahkan dalam dokumen perencanaan yang berkualitas dan tepat sasaran, diwujudkan dengan adanya keselarasan rumusan tema, prioritas, proyeksi makro ekonomi, dan arah kebijakan serta program pembangunan yang bersinergi dan sejalan.
“Jembatan Sebulu itu nanti proyek yang menunjang kesiapan Kukar menghadapi IKN, terus juga jika terbangun maka jaraknya lebih percepat. Kita bisa lebih menghemat. Untuk bentang panjangnya dalam perencanaan itu sepanjang 453 meter dan pembangunan ini menjadi target di RPJMD,” jelasnya.
Nana menerangkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) merupakan dokumen perencanaan pembangunan daerah untuk jangka periode selama lima tahunan yang berisi penjabaran dari visi, misi dan program kepala daerah dengan berpedoman pada Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) serta memperhatikan RPJM Nasional.
RPJMD menekankan tentang pentingnya menerjemahkan secara arif tentang visi, misi, dan agenda Kepala Daerah terpilih dalam tujuan, sasaran, strategi dan kebijakan pembangunan yang merespons kebutuhan dan aspirasi masyarakat serta kesepakatan tentang tolok ukur kinerja untuk mengukur keberhasilan pembangunan daerah dalam lima tahun ke depan.
Dengan dibangunnya Jembatan Sebulu pada 2023-2024 mendatang maka akan memangkas selisih waktu tempuhnya itu 30 menit dan kalau perbedaan panjang jarak yang bisa dihemat sepanjang 16,3 kilometer.
“Kalau jembatan Sebulu itu ditinjau dari beberapa tempat, yang pertama dari Sebulu ke Tenggarong selisih waktu tempuhnya itu 30 menit selisih panjangnya 16,3 kilo-meter, kemudian kalau kita ke Kutai Timur itu indeks konektivitasnya yang semula itu kalau menggunakan akses sekarang itu 40,51 persen naik menjadi 93,27 persen. Jadi okupansi masyarakat yang akan melewati itu sampai 93,27 persen,” terangnya.
Semua kajian telah diukur dan dianalisis untuk pembangunan Jembatan Sebulu. Adapun kebutuhan dana yang harus dipersiapkan Pemkab Kukar untuk pembangunan Jembatan Sebulu ini nantinya sekitar Rp504 miliar. (*/hei)