Camat Marangkayu Rekson Simanjuntak menjelaskan, sesuai arahan Bupati Kukar H Edi Damansyah, kecamatan yang dipimpinnya memang dikhususkan memperkuat Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), karena Desa Sebuntal dan Semangkok memiliki hamparan sawah ribuan hektare.
“Hanya memang sekarang para petani terbelenggu dengan tengkulak jadi kami sudah mainkan dengan BUMDes untuk pengelolaan baik produksi dan sektor hilirnya,” kata Rekson.
Selama ini diakuinya sektor hilir agak sulit dibenahi karena sebagai penampung gabah seharusnya Bulog, namun kondisi ideal ini masih belum terwujud sehingga saat ini pihaknya konsentrasi melakukan penguatan pada BUMDes.
“Karena untuk mengangkat BUMDes kan bukan hanya menampung, tapi bagaimana kami memasarkan. Kebetulan bupati juga sudah mengarahkan Marangkayu jadi kawasan industry, jadi pembangunannya untuk tempat pengolahan dan pelabuhannya ya di Marangkayu, kemudian juga ada lima desa eks transmigrasi yang difokuskan pada perkebunan dan ini kami dorong bagaimana hasil perkebunan mereka ini tidak lagi individu tapi pengelolaannya dikelola BUMDes,” papar Rekson.
Untuk wilayah Semangkok dan Sebuntal ke depan akan dibangun embung sedangkan untuk Desa Kersik difokuskan sebagai penghasil garam.
Bahkan, Alokasi Dana Desa (ADD) Kersik akan dimanfaatkan untuk memaksimalkan produksi garam karena nanti akan menjadi desa penghasil garam di Kukar.
Semua potensi baik pertanian, perkebunan dan sektor lainnya termasuk produksi garam dan karet juga tengah digencarkan di Marangkayu sehingga ketika nanti Ibu Kota Negara (IKN) terwujud di Kaltim, desa di Kukar sudah bisa mandiri.
“Konsen serius pertanian dalam arti luas, perkebunan di Sebuntal, Semangkok potensi persawahan, Santan Ilir, Santan Tengah itu juga sawit kebun. Memang kita harus dorong itu diatas 80 persen masyarakat kita ketergantungan pada pertanian dalam arti luas,” tutup Rekson.
Penulis: */Muhammad Heriansyah
Editor: Aspian Nur
* Berita/artikel ini sudah terbit di Koran Kaltim edisi cetak tanggal 19 Agustus 2021