Sebelumnya kelangkaan tabung gas melon tersebut terjadi di Kota Samarinda dan Kabupaten Kukar.
“Susahnya cari tabung melon, keliling warung-warung pengecer seputar Barong Tongkok, Kubar kosong,” ungkap Mariah, ibu rumah tangga (IRT), Kamis (29/6/2023).
Kelangkaan tersebut juga dikeluhkan pedagang makanan dan minuman yang merasa susah mendapatkan tabung gas ukuran 3 Kg tersebut. “Susah dapat tabung, keliling nyari belum dapat, “ keluh Jono, pedagang pentol yang sehari-hari mangkal di Bundaran Linggang Bigung ini.
Lain hanya dengan Yomilia yang sehari-harinya mengurus rumah tangga ini mengaku tak terlalu berpengaruh langkanya tabung. “Kayu bakar masih banyak, tinggal ambil dalam hutan saja, mau di tarik juga elpiji 3 kilogram, ga masalah toh takarannya juga sudah kurang,” ungkapnya kesal.
Untuk diketahui, sebelum tabung elpiji 3 kilogram mengalami kelangkaan, tabung gas melon yang beredar di pasaran rata- rata takarannya berkurang. Kurangnya isi tabung elpiji juga sempat dikeluhkan warga beberapa waktu lalu. Sebagian besar masyarakat mengeluh takaran kurang. Biasanya jika takaran normal tabung 3 kilogram bisa digunakan seminggu lebih. “Baru tukar paling lama tiga hari habis, padahal biasanya lebih seminggu,” ungkap Lisa.
Lisa berharap pihak terkait segera turun tangan untuk melakukan operasi pasar terkait berkurangnya isi gas tersebut, sebab dirinya menduga pengisian gas memang tidak mencapai standar.
Terkait kurangnya takaran gas melon yang dikeluhkan warga, korankaltim.com mencoba melakukan konfirnasi dengan salah satu agen elpiji di Barong Tongkok. “Terkait langka tabung gas, kita kurang paham, kami hanya terima pengiriman, demikian juga terkait takaran standar,” ungkap agen elpiji yang tak mau di sebutkan namanya ini.
Media ini juga mencoba mengkorfirmasi persoalan ini ke Dinas Perdagangan Perindustrian dan Koperasi (Disperindagkop) Kutai Barat, namun pejabat setempat belum bisa dihubungi.
Editor: Maruly Zainuddin