Harsono, warga kampung nelayan yang ada di RT 16 Mamburungan menyebut, ketika musim hujan jalan sulit untuk dilewati, meskipun panjangnya hanya sekitar 1 kilometer, namun jalan tersebut akses utama yang sehari-hari dilalui warga sekitar.
“Kalau hujan kita lalui saja, tetapi sering anak sekolah jatuh sehingga tidak jadi masuk sekolah, baju dan sepatu kotor. Jalan ini dilewati untuk antar anak sekolah baik TK,SD, SMP, dan SMA. Termasuk untuk menjual hasil tangkapan nelayan, dan hasil pertanian ke pasar,” ujar Harsono.
Pernah ada rencana membuat jalan alternatif, dengan membuka jalan baru melintasi perbukitan yang ada di samping perkampungan, namun hingga saat ini belum terealisasi. Jalan ke kampung nelayan ini, memang harus melewati pos penjagaan Mako Lantamal XIII Tarakan.
“Ini satu-satunya akses jalan, ada rencana mau buka jalan baru ke bukit, tetapi belum terlaksana. Di kampung nelayan ini ada sekitar 70 KK (Kepala Keluarga), jadi cukup banyak. Anak sekolah juga banyak, hasil pertanian juga lewat sini, macam sekarang ini kalau kita lewat pasti kerepotan. Kadang anak sekolah kalau sudah tidak bisa lewat, balik lagi tidak jadi sekolah,” bebernya.
Warga mengharapkan, pemerintah secepatnya mencarikan solusi persoalan ini. Supaya dapat melakukan aktivitas pendidikan, ekonomi, dan lain sebagainya secara nyaman dan aman, “Harapan kita pemerintah bisa membantu akses jalan, karena perjuangannya luar biasa kalau sudah hujan,” pungkasnya. (*/kk)