“Jam setengah 8, kayak guntur suaranya, aku masih tidur karena usai salat subuh aku tidur kembali, dan anak-anak tidak sekolah, jadi kita kumpul di ruang tengah sambil tiduran. Mendengar suara gemuruh aku cek ke dapur, ternyata longsor dan mengakibatkan dinding dan atap jebol,” terangnya.
Akibat kejadian ini beberapa peralatan dan perlengkapan dapur menjadi rusak, seperti rak piring, kompor, freezer, dan sejumlah peralatan lainnya.
Untuk melakukan pembersihan material longsor, Mase menunggu anak-anaknya pulang dari tambak, serta tim evakuasi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tarakan.
“Masih menunggu tim evakuasi dari BPBD dan pihak kelurahan, katanya mau datang ke sini. Selain itu juga menunggu anakku keluar dari tambak, ada dua orang yang sudah dikabari dan saat ini dalam perjalanan pulang,” katanya.
Musibah tanah longsor bukan pertama kali terjadi di rumah Mase, bukit yang berada tepat di belakang rumah sudah beberapa kali longsor, namun kejadian pada Selasa (25/6/2024) pagi itu yang terbesar karena menyebabkan kerusakan.
“Kejadian beberapa kali, dulu pernah terjadi, makanya kamar pindah ke sini. Tetapi ini paling parah, dapur sampai hancur. Alhamdulillah Tuhan masih menolong, sehingga tidak sampai menyebabkan korban jiwa,” pungkasnya.
Editor: Maruly Z