Sementara itu, kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga mengalami deflasi 0,09 persen, kelompok kesehatan mengalami inflasi 0,85 persen, kelompok transportasi inflasi 4,54 persen serta kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,09 persen.
Selanjutnya, kelompok rekreasi, olahraga dan budaya mengalami inflasi 0,24 persen, kelompok pendidikan inflasi 0,36 persen, kelompok penyediaan makanan dan minuman inflasi 1,05 persen dan kelompok pribadi dan jasa lainnya mengalami inflasi 4,29 persen.
“Dari 11 kelompok pengeluaran masyarakat, terdapat dua kelompok yang mengalami deflasi. Secara umum, transportasi masih jadi kelompok dengan inflasi tertinggi sebesar 4,54 persen,” kata Mas’ud.
Berdasarkan wilayah, Kota Tarakan mengalami inflasi tahunan sebesar 2,58 persen pada bulan November 2023. Sementara Tanjung Selor lebih rendah di angka 1,95 persen.
Lima jenis barang/jasa penyumbang tertinggi inflasi tahunan di Kalimantan Utara adalah beras sebesar 0,54 persen, angkutan udara sebesar 0,54 persen, emas perhiasan sebesar 0,25 persen, daging ayam ras sebesar 0,20 persen dan cabai rawit sebesar 0,15 persen.
“Adapun, komoditas penyumbang deflasi adalah bawang merah sebesar -0,11 persen, sawi hijau sebesar -0,05 persen, udang basah sebesar -0,05 persen, bayam sebesar -0,04 persen, dan ikan bandeng/ikan bolu sebesar -0,04 persen,” jelas Mas’ud.
Sebelumnya, Kaltara mencatat inflasi tahunan terendah pada tahun 2023 di bulan September. Kaltara mengalami inflasi tahunan di September 2023 sebesar 2,16 persen. Turun dibandingkan Bulan Agustus dengan inflasi 3,29 persen dan Bulan Juli sebesar 2,79 persen.
“Di sepanjang tahun 2023, inflasi year on year atau inflasi tahunan terendah ada di September lalu,” kata Mas’ud.
Editor: Aspian Nur