“Jika dibandingkan dengan Januari 2023, ekspor hasil tambang bisa mencapai USD224,89 juta (Rp3,35 triliun), jadi ada penurunan lebih dari setengahnya,” kata Mas’ud dilansir dari Korankaltara.com Rabu (12/4/2023) hari ini.
Penurunan ekspor hasil tambang berpengaruh signifikan terhadap keseluruhan kinerja ekspor. BPS mencatat nominal ekspor di Kaltara mengalami penurunan 48,22 persen pada Februari 2023.
“Hasil tambang memberi kontribusi dominan terhadap ekspor Kaltara. Sehingga penurunannya berpengaruh terhadap nilai ekspor keseluruhan,” papar Mas’ud.
Senada dengan penurunan kinerja ekspor, surplus neraca perdagangan juga mengalami penurunan. Yakni dari USD245,54 juta (Rp3,65 triliun) menjadi USD105,70 juta (Rp1,57 triliun).
“Neraca perdagangan ekspor impor Kaltara masih menunjukkan nilai yang positif dengan kategori surplus. Namun angkanya turun sampai 56,95 persen,” jelasnya.
Secara umum, kontraksi negatif ekspor batu bara dipengaruhi adanya penurunan harga jual batu bara di pasar global. Salah satu penyebabnya adalah sejumlah negara tujuan utama di Benua Eropa memasuki musim panas.
“Eropa sudah mulai masuk musim panas, sehingga penggunaan batu bara juga menurun. Diibaratkan musim durian runtuh mulai habis trennya di Februari,” sebut Mas’ud.
Penurunan harga jual juga diprediksi membuat perusahaan batu bara menahan penjualan. Sehingga berpengaruh terhadap volume ekspor pada Februari kemarin.
“Kemungkinan besar perusahaan berpikir jika ekspor dengan volume sama di harga menurun itu kurang menguntungkan. Sehingga ditahan hingga harga kembali membaik,” jelasnya.
Sementara Harga Batu bara Acuan (HBA) bulan Februari 2023 terkonfirmasi mengalami penurunan sebesar USD28,16 per ton. Atau dari menjadi USD277,05 per ton dibanding HBA Januari 2023.
Kepala Seksi Konservasi dan Produksi Batu bara pada Dinas ESDM Kalimantan Utara Zainal Arifin mengatakan, turunnya HBA ini dipengaruhi oleh mulai menghangatnya cuaca di Benua Eropa.
"Penurunan harga batubara ini dikarenakan menurunnya permintaan batubara dari Eropa yang disebabkan cuaca di Eropa sudah mulai menghangat," kata Zainal.
Selain itu, kondisi pasokan gas Eropa turut ambil bagian dalam menentukan fluktuasi besaran HBA.
"Adanya pelemahan harga gas alam juga ikut berdampak pada harga batubara ke angka USD277,05, sehingga semua index yang mempengaruhi HBA turun," ungkap Zainal.
Sebelumnya, gangguan distribusi batubara di Australia menjadi salah satu pemicu naiknya HBA bulan Januari 2023 menjadi USD305,21 dimana Australia menjadi pemasok batubara global.
Berdasarkan infotmasi yang ia terima dari Kementerian ESDM, peningkatan HBA juga disebabkan adanya kendala distribusi batu bara di pelabuhan muat.
"Adanya permasalahan di pelabuhan muat yang memicu terkendalanya pasokan batu bara Australia ke negara importir, seperti Jepang dan Korea juga turut andil," jelasnya.
Sebagai informasi tambahan, pada tahun 2022 lalu, HBA sempat menyentuh nilai tertinggi pada bulan Oktober, dimana HBA terkerek hingga menyentuh level USD 330,97 per ton.
Kondisi geopolitik Eropa imbas konflik Rusia - Ukraina yang menyebabkan fluktuasi harga gas Eropa menjadi faktor pengerek utama pada saat itu.
Kenaikan HBA di awal tahun 2023 diharap bisa menjadi angin segar terhadap geliat sektor pertambangan di Kaltara.
Sehingga, geliat usaha ini mampu berkontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi, kinerja ekspor hingga perputaran uang di dalam daerah.
“Tentu harapannya seperti itu, dimana peningkatan HBA dapat menstimulus kinerja produksi perusahaan di sini. Apalagi Kaltara sudah memiliki sejumlah mitra dagang utama di luar negeri untuk batu bara,” tutup Zainal.
Editor: Aspian Nur