Beberapa anggota Gegana Brimob Polda Kaltara harus menggunakan atribut pelindung yang sangat tebal, dengan dilengkapi helm antipecah untuk melakukan evakuasi kedua benda.
Wakil Kepala Polres Tarakan, Ariantony Bangalino menjelaskan, pria berinisial AS yang membawa koper itu, memasuki wilayah Polres Tarakan dengan menggunakan sepeda motor. AS membawa paket berupa satu kardus dan satu koper yang langsung menuju pos penjagaan.
“Dia tiba-tiba memaki petugas jaga sambil meneriakkan kata ‘jihad’ serta minta untuk ditembak sambil terus mengancam akan meledakkan Polres Tarakan, setelah itu keluar Mako Polres dan menaruh sepeda motornya bersama dua paket di trotoar depan Mako,” ungkap Ariantony dilansir dari Korankaltara.com Rabu (18/1/2023) hari ini.
Polisi kemudian melakukan sterilisasi dengan memasang garis polisi untuk memberikan rasa aman kepada masyarakat terlebih, Mako Polres Tarakan berada di pusat kota dan jalan protokol.
“Setelah melalui beberapa proses, kemudian dari pihak Jibom Gegana Brimob Polda Kaltara membuka akses untuk melihat isi paket. Setelah dibuka, ternyata barang-barang yang kita dapat berupa cempedak dan pakaian,” jelasnya.
Dari penelusuran awal, AS diduga mengidap gangguan jiwa. Hal ini berdasarkan surat berobat yang didapat oleh petugas. Bahkan dalam surat tersebut yang bersangkutan telah berobat pada 9 November 2021 dan didiagnosa mengidap gangguan kejiwaan.
“Bisa dilihat dari surat ini, dimana yang bersangkutan dianjurkan untuk berobat kembali pada Februari 2022. Tetapi yang bersangkutan sampai sekarang tidak melakukan pengobatan secara teratur. Untuk tindakan hukum, kami masih melakukan interogasi yang mendalam. Pelaku juga akan kita observasi ke ahli jiwa, untuk mengetahui apakah yang bersangkutan mengalami gangguan jiwa atau tidak,” papar Ariantony.
Sementara itu, Wakil Komandan Brimob Polda Kaltara, AKBP Sutrisno Hady Santoso secara terpisah menjelaskan, setelah menerima informasi dari Polres Tarakan, pihaknya langsung menuju tempat kejadian perkara.
Kemudian dilakukan analisis terhadap dua benda yang mencurigakan tersebut. “Kemudian dievakuasi ke tempat aman untuk kita lakukan pembukaan akses, dengan menggunakan peledakan menggunakan peralatan khusus yang dimiliki oleh tim. Setelah dilakukan pembukaan akses, baru kita lakukan pemeriksaan secara rinci. Tidak temukan satu pun rangkaian bom, yang ada hanya cempedak dan baju,” kata Sutrisno.
Istri AS bernama Dina yang didatangkan dalam konferensi pers di Mako Polres Tarakan mengakui suaminya memang sedang sakit tetapi sudah lama tidak kambuh. Bahkan saat berada di Nunukan selama beberapa hari juga tidak menunjukkan gelagak yang tidak baik.
“Tidak ada ciri-ciri kambuh, saat ada di sana juga tidak ada. Aman-aman saja, tidak ada perilaku yang fatal, biasa-biasa saja. Tadi juga sampai rumah aman saja, tidak ada yang aneh. Sesampainya di rumah, pamit mau ambil barang di Pelabuhan tapi saya larang, namun dia tetap pergi tetapi tidak pulang-pulang. Ternyata sudah disini,” ucapnya.
Dalam keseharian, AS juga baik-baik saja. Dia bekerja secara normal, bahkan menjadi ABK speedboat regular. Tetapi dirinya mengakui bahwa suaminya pernah berobat ke klinik kejiwaan. “Terakhir ke dokter, sudah sembuh. Tetapi dia tidak mau balik atau kontrol lagi ke rumah sakit. Katanya takut kalau ditahan tidak boleh pulang lagi,” kata Dina.
Editor: Aspian Nur