Kasi Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan di Satuan Polisi Pamong Praja, Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Tarakan Irwan menjelaskan terkait kebakaran tersebut.
“Saat personel masih dalam perjalanan menuju lokasi, diinfokan api sudah dipadamkan warga sekitar dan ada korban jiwa. Setibanya di lokasi kejadian, dilakukan pembasahan dan pendinginan sisa api, serta evakuasi jenazah yang merupakan anak perempuan usia delapan tahun, anak dari pemilik rumah,” kata Irwan dilansir dari Korankaltara.com Senin (1/10/2022) hari ini.
Ketua RT 11 Kampung Empat Daryono secara terpisah menambahkan, berdasarkan informasi dari keluarga pemilik rumah yang terbakar, api berasal dari kamar anak yang pada saat kejadian terdapat tiga orang anak yang berada di dalamnya, satu diantaranya adalah sepupu RZ. “Awal mula api dari kamar anak yang terbakar, di dalamnya ada tiga anak, RZ, kakaknya dan sepupunya. Pada saat kejadian kakak dan sepupunya sudah berusaha mengajak RZ untuk keluar kamar, tetapi yang bersangkutan hanya berteriak memanggil ayahnya. Begitu ayahnya terbangun api sudah membesar, makanya mengalami luka bakar dan dibawa ke rumah sakit,” imbuhnya.
RZ merupakan anak kelima dari tujuh bersaudara, sedangkan kakak dan sepupunya belum bisa dimintai keterangan karena masih trauma dengan kejadian tersebut.
Sementara Lurah Kampung Empat Neni Fitriati mengatakan mereka belum bisa menyimpulkan asal api. Saat ini masih dalam proses penyelidikan oleh pihak berwajib. “Korban usia delapan tahun kelas 2 SD. Pada saat kejadian, orangtua sudah pada tidur sehingga tidak tahu kondisi awalnya seperti apa. Kalau di dalam kamar ada Alquran, kertas, buku yang menjadi barang yang mudah terbakar, jadi cepat membesar. Penyebab kurang tahu, masih dalam penyelidikan,” ucapnya.
Di dalam rumah terbakar tersebut ditinggali oleh tujuh orang, dua orang tua dan 5 anak. Dua anak lainnya sedang mondok di pesantren.
Informas yang diterima kepolisian, kebakaran itu terjadi di gudang dan dijadikan kamar. Kasat Reskrim Polres Tarakan, Iptu Muhammad Aldi melalui Kanit Pidum, Ipda Muhammad Farhan mengatakan, saat kejadian para pekerja sedang beristirahat malam hari. Sekitar pukul 24.00 WITA tengah malam api terlihat dari arah gudang.
“Sebenarnya itu gudang, cuma malam itu gudang dipakai anak-anak tidur. Ada tiga orang anak yang tidur di dalam kamar itu, korban dan dua orang sepupunya yang menginap,” jelas Farhan.
Api yang muncul seketika langsung membesar, seluruh penghuni gudang yang panik langsung keluar sementara RZ masih di dalam ruangan yang terbakar.
Orangtua RZ sudah berada di luar gudang menyelamatkan diri. Orangtua korban mengira anaknya sudah keluar karena kedua sepupunya sudah keluar semua.
“Sempat katanya ada teriakan minta tolong, cuma dikira tetangganya yang teriak, ternyata anaknya yang di dalam. Begitu api padam, pemadam kebakaran masuk ternyata ada jenazah anaknya di dalam,” imbuhnya.
Di dalam gudang tersebut, ada suami istri dan anaknya kemudian dua orang sepupunya. Pihaknya belum bisa memastikan apakah salah satu sepupu korban yang pertama kali melihat api, karena masih trauma.
Tim Inafis sudah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Dari hasil olah TKP sementara, penyidik menduga asal mula kebakaran dari korsleting listrik dari lampu yang berada di luar kamar.
Posisi gudang sendiri berada di antara bukit, saat terjadi hujan deras dugaan sementara air hujan yang turun merambat ke dinding triplek hingga mengakibatkan instalasi listrik basah.
Sebagian besar bangunan juga terdiri dari triplek, sehingga memudahkan api dengan cepat membesar dan menyebar menghabiskan seluruh ruangan.
“Tapi itu baru dugaan sementara, karena hasil olah TKP akan dianalisa kembali. Dari olah TKP ada lampu dan kabel yang diamankan, kemudian ada bekas pipa yang hangus yang diperkirakan merupakan titik api,” ungkapnya.
Editor: Aspian Nur