“Tentu saja dengan keberadaan investor di Kaltara akan menambah PAD (pendapatan asli daerah). Makanya setiap perusahaan kami minta berkantor di sini, supaya bisa menunjang pendapatan,” kata Zainal dilansir dari laman Korankaltara.com Senin (10/10/2022) hari ini.
Seperti diketahui, PAD Kaltara masih didominasi oleh sektor pajak daerah, disamping asupan dana transfer pusat.
Terpisah, Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kaltara Tomy Labo menjelaskan, sejauh ini ada lima komponen pajak yang ditarik oleh daerah. Namun tidak semua maksimal memberikan sumbangsih kepada PAD.
Dengan masuknya sejumlah proyek besar, berdasarkan hasil pendataan yang dilakukan, ada potensi pajak daerah yang bisa ditingkatkan. Setidaknya ada tiga komponen yang bisa terdongkrak dengan keberadaan wilayah industri hingga pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). “Untuk di KIPI kami sudah lakukan pendataan. Ada (pajak) dari alat berat, lalu BBM dan juga air permukaan. Jadi, tiga jenis pajak target kita ke depan,” ujar Tomy.
Apalagi pembangunan PLTA di Kaltara juga tengah berlanjut, baik rencana PLTA Sungai Kayan di Bulungan maupun PLTA Sungai Mentarang di Malinau. Dua megaproyek ini akan menambah pasokan pendapatan dari sektor pajak di Kaltara.
“Iya termasuk juga pembangunan PLTA. Di sana juga ada potensi pajak dari alat berat. Lalu, BBM dan juga air permukaannya,” tuturnya.
Diyakini kalau program skala besar dengan investasi yang besar, akan memberikan efek yang positif bagi pendapatan daerah. Setiap pembangunan yang dilakukan, bisa menunjang potensi kenaikan pajak dari sejumlah komponen yang ada.
Editor: Aspian Nur