Hal ini diungkapkan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Tarakan, Ardiansyah yang menyebut dari seluruh jumlah nelayan yang terdata, sebagian besar belum memiliki asuransi.
Jumlah nelayan di Tarakan yang terdata di DKP Tarakan sebanyak 9.022 orang, ada 4.486 orang memiliki kapal atau perahu untuk untuk jenis nelayan tangkap. Jumlah ini belum termasuk nelayan budidaya yang mengangkut hasil budidaya, seperti kepiting.
DKP memiliki tim yang ditugaskan untuk menyisipkan tentang pentingnya asuransi saat melakukan penyuluhan kepada nelayan.
“Kalau data kami, kurang setengahnya dari jumlah nelayan di Tarakan yang sudah punya asuransi. Masalah pemahaman ini yang jadi kendala dan perlu diinformasikan,” sebut Ardiansyah dilansir dari laman Korankaltara.com Sabtu (16/4/2022) hari ini.
Ditegaskannya, profesi nelayan memiliki resiko tinggi, seperti kecelakaan kerja yang disebabkan cuaca dan gelombang berubah saat melaut sehingga asuransi dianggap penting saat terjadi kecelakaan di laut.
“Kami juga punya perjanjian kerja sama (PKS) dengan BPJS Ketenagakerjaan. Apalagi nelayan melaut resikonya besar. Kalau budidaya risikonya tidak sebesar nelayan tangkap. Asuransi ini bukan untuk nelayan sendiri, tapi untuk keluarganya di rumah. Makanya biarpun tidak wajib, tapi ini program pemerintah untuk melindungi profesi dengan resiko tinggi, sama dengan buruh bangunan,” tegas Ardiansyah.
Sementara Kepala Bidang Kepersertaan BPJS Ketenagakerjaan Franco Hasibuan mengungkapkan, dari data yang dimiliki BPJS Ketenagakerjaan, ada sekitar 7.000 nelayan di Tarakan. Di antaranya, 4.000 nelayan tangkap dan 3.000 nelayan budidaya.
“Kalau nelayan yang sudah terdaftar di kami baru sekitar 2.400-an nelayan yang sudah terdaftar di BPJS Ketenagakerjaan,” ujar Franco.
Salah satu nelayan di Kelurahan Selumit Pantai, Syamsudin mengatakan belum memiliki asuransi karena masih menganggap belum penting.
Selain itu, ia mengaku kesulitan melakukan pembayaran lantaran tidak mengetahui bagaimana cara pembayaran.
“Siang hari kami sudah kerja melaut, kalau malam sudah lelah. Makanya kami pun tidak sempat ikut. Kalau jumlahnya kecil saja, kami berharap ada bantuan dari pemerintah,” ucap Syamsudin.
Editor: Aspian Nur