Lapangan HCA mulai berproduksi sejak 1975 dan menjadi salah satu aset migas strategis di Wilayah Kerja Mahakam. Pengeboran pertama dilakukan di Sumur H-1 pada 15 Februari 1974. Sejak 2018, pengelolaan lapangan tersebut berada di bawah PHM.
General Manager PHM Setyo Sapto Edi menegaskan bahwa usia 50 tahun bukan berarti memasuki masa senja bagi sebuah lapangan migas. Sebaliknya, momen ini menjadi masa emas yang ditandai ketahanan operasi, penerapan teknologi modern, serta dukungan para pemangku kepentingan.
“Keberlangsungan Lapangan HCA selama 50 tahun adalah hasil dari konsistensi dalam mengadopsi teknologi modern, komitmen terhadap praktik operasi berkelanjutan, serta terjalinnya sinergi yang baik dengan pemerintah, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan. Tanpa dukungan mereka, perjalanan panjang ini tentu tidak akan tercapai,” ujar Setyo dalam rilisnya, Rabu (17/9/2025)
Setyo menambahkan, inovasi dan teknologi berperan penting menjaga tingkat recovery dan produksi migas. Menurutnya, pengelolaan yang efisien serta penerapan teknologi terkini terbukti mampu memperpanjang usia lapangan, sekaligus memberikan nilai tambah bagi negara dan generasi mendatang.
Sepanjang perjalanannya, Lapangan HCA menghadapi fluktuasi cadangan migas, dinamika harga, hingga tuntutan menjaga keberlanjutan lingkungan. Namun, optimalisasi inovasi, digitalisasi operasi, dan strategi pengelolaan adaptif membuat lapangan ini tetap bertahan sebagai aset vital bagi energi nasional.
Ia juga mengingatkan pentingnya aspek keselamatan dalam setiap aktivitas operasi.
“Keselamatan adalah hal yang utama bagi Perusahaan. Karena kami meyakini bahwa kinerja keselamatan yang unggul akan mendukung keberhasilan dan keberlanjutan operasi dan bisnis migas Perusahaan,” tegasnya.
Dukungan pemerintah dan masyarakat turut menjadi faktor penting bagi keberhasilan Lapangan HCA. Kondisi sosial yang kondusif membuat perusahaan dapat beroperasi lancar sekaligus memberi manfaat ekonomi dan sosial bagi daerah.
“Kami meyakini kolaborasi dan sinergi dengan seluruh pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, pemegang saham, perusahaan mitra kerja, serta masyarakat di sekitar wilayah operasi akan mendukung keberlanjutan produksi migas Perusahaan yang penting bagi penyediaan dan ketahanan energi nasional,” tutup Setyo. (*)
Editor: Erwin