Namun, masyarakat kini terlihat lebih teliti dalam memilih merek dan memastikan asal-usul produk yang dibeli.
Salah satu pedagang di Jalan Bung Tomo, Irfan, menyebut harga eceran beras saat ini masih stabil, berkisar antara Rp15 ribu hingga Rp17 ribu per kilogram (kg), tergantung jenis.
Meski sempat mendengar isu yang tengah ramai dibahas, namun ia menyatakan bahwa usahanya sejauh ini tak terdampak.
“Tapi kalau dibandingkan dengan harga dulu, memang sekarang naik. Terus soal beras yang oplosan itu saya dengar salah satunya merek Berlian, tapi tetap ada yang beli. Insyaallah aman saja distributornya,” kata Irfan, Rabu, (6/8/2025).
Ia memastikan pasokan beras di tokonya masih berjalan normal. Tidak ada jenis tertentu yang langka, dan pengiriman dari distributor pun tetap lancar.
“Harganya sudah ditetapkan dari distributor. Jadi kami hanya ambil margin tipis saja,” ucapnya.
Dari sisi konsumen, Rara (25) mengaku sempat terkejut setelah mengetahui bahwa beras yang belum lama ini ia beli termasuk dalam daftar tak memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI).
“Kaget karena baru tahu itu beras udah lama beredar, kenapa baru diuji sekarang. Terlanjur beli, meski cuma 10 kg, harganya Rp170 an ribu. Tapi mubazir kalau dibuang,” tuturnya.
Meski demikian, sejauh ini Rara mengaku tidak mengalami masalah. Ia menyebut, beras yang dibelinya masih layak konsumsi dan tidak menunjukkan keanehan.
“Untuk rasa alhamdulillah sejauh ini aman saja tak ada yang aneh. Asal bukan dioplos plastik,” tuturnya.
Diketahui, sebelumnya sebanyak tujuh merek beras kemasan lima kilogram yang beredar di pasaran dinyatakan tidak memenuhi standar mutu premium sebagaimana label di kemasannya.
Temuan ini berdasarkan uji laboratorium terhadap 21 sampel beras oleh UPTD Balai Pengujian dan Sertifikasi Mutu Barang (BPSMB) Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM (DPPKUKM) Kaltim, bekerja sama dengan Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Kaltim.
Pengambilan sampel dilakukan di sejumlah ritel modern, pasar tradisional, hingga pedagang kecil di Samarinda dan Balikpapan.
Hasil pengujian menunjukkan ketidaksesuaian parameter mutu seperti butir patah, menir, butir rusak, hingga kadar butir kapur. Meski tetap aman dikonsumsi, kualitas beras tersebut hanya setara beras medium, bahkan lebih rendah.
Editor: Erwin