Ketujuh merek beras ini diantaranya Bondy, Ikan Sembilang, Putri Koki, Sedap Wangi, Berlian Batu Mulia, Raja Lele dan 35 Rahma.
Dalam proses uji sampel beras premium tersebut, DPPKUKM Kaltim melakukan pengujian yang terfokus pada 14 paramater, hama dan penyakit, bau apak, asam atau bau asing lainnya, campuran dedak dan bekatul, bahan kimia yang membahayakan dan merugikan, derajat sosoh, kadar air, butir kepala, butir patah, menir, butir merah, butir kuning/rusak, butir kapur, butir gabah dan benda asing.
Kepala DPPKUKM Provinsi Kaltim, Heni Purwaningsih, menyampaikan secara keseluruhan isi beras di sejumlah merek tersebut tidak sesuai dengan label kemasannya.
“Sebetulnya semua (isi beras) itu sama saja, dan tidak membahayakan kesehatan serta tetap bisa di konsumsi,” ujar Heni, usai Konferensi Pers Hasil Pengawasan Beras di Samarinda, Senin (4/8/2025).
Hanya saja, masyarakat dinilai dirugikan dalam bentuk harga jual yang harus dibayarkan. Sebab tidak sesuai antara harga dengan kualitas isi sebenarnya.
“Yang seharusnya masyarakat mengeluarkan uang untuk standar harga beras medium, tetapi harus mengeluarkan lebih karena berasnya dilabeli sebagai beras premium,” ucapnya.
Padahal, sesuai ketentuan yang berlaku ungkap Heni, untuk barang atau komoditi yang diperjualbelikan dalam kondisi terbungkus atau dalam kemasan harus tunduk pada aturan terkait perdagangan dalam kemasan. Jika kemasan beras tersebut menyatakan premium, maka isi di dalamnya harus memenuhi persyaratan beras premium.
“Sedangkan dari hasil pengujian yang dilakukan menyatakan ada beberapa merek beras bukan beras premium, maka barang tersebut diminta untuk di tarik guna melakukan penyesuaian,” katanya.
Dia menjelaskan, untuk bentuk penyesuaian tersebut dilakukan oleh distributor atau produsen yang memang mempunyai wewenang. Jadi penyesuaian ini dilakukan dengan mengganti kemasan yang sesuai dengan isinya.
“Selain itu penarikan beberapa merek beras oplosan ini jangan sampai menimbulkan kelangkaan di pasaran, Makanya penyesuaian, ini akan dilakukan dengan pengawalan,” tuturnya.
Editor: Erwin