Enam kawasan strategis akan dikembangkan menjadi klaster industri penopang Ibu Kota Nusantara (IKN), seiring rencana pemerintah pusat menjadikan Kaltim sebagai superhub ekonomi nasional.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kaltim Yusliando kepada Korankaltim.com menjelaskan, keenam kawasan tersebut mencakup Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy di Kutai Timur, Kawasan Industri Kariangau (KIK) di Balikpapan, kawasan industry di Buluminung (Penajam Paser Utara), Yuskari-Anggana (Kutai Kartanegara), Bontang dan Kota Samarinda.
“Setiap klaster memiliki fokus berbeda. Maloy diarahkan untuk industri turunan kelapa sawit, Kariangau untuk aneka industri termasuk kimia dan kendaraan listrik, sementara Samarinda disiapkan untuk pengolahan turunan batu bara,” jelas Yusliando Senin (28/7/2025) hari ini.
Transformasi ini jadi kunci untuk menekan dominasi sektor pertambangan yang masih menyumbang lebih dari 40 persen terhadap PDRB Kaltim. Targetnya, kontribusi sektor industri naik menjadi 44 persen pada tahun 2045, sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD).
“Saat ini kami sedang menyusun peta jalan transformasi ekonomi Kaltim bersama pemerintah Jerman melalui program ISEP. Dokumen ini akan menjadi panduan jangka panjang,” jelasnya.
Meski sudah diatur dalam Perpres Nomor 63 Tahun 2022 tentang Superhub Ekonomi Nusantara, ia mengakui sejumlah kawasan masih menghadapi hambatan, terutama infrastruktur dasar.
“KEK Maloy, misalnya, lahannya sudah siap tapi realisasinya masih lambat karena infrastruktur belum memadai. Ini yang jadi fokus kami di 2025,” sebut Yusliando lagi.
Pemerintah daerah pun berharap kerja sama dengan Otorita IKN bisa dipercepat, mengingat seluruh kawasan ini akan saling terhubung dan mendukung rantai pasok industri nasional pascaera energi fosil.
“Transformasi ini bukan sekadar wacana. Begitu sektor tambang mulai surut, kita harus sudah siap dengan fondasi industri yang kuat. Kalau tidak, Kaltim bisa tertinggal,” pungkas Yusliando.
Editor: Aspian Nur