Kondisi produksi batu bara di Kaltim saat ini terbilang masih cukup dinamis. Dampak penurunan ekspor belum terlalu signifikan dirasakan perusahaan pertambangan di Benua Etam. Itu terlihat dari masih banyaknya aktivitas kapal pengangkut batu bara yang melintas di Sungai Mahakam.
"Bahkan jika mengingat kondisi di tahun 2021, ekspor batu bara jauh lebih parah dibandingkan saat ini. Aktivitas di Sungai Mahakam terbilang sepi saat itu. Jadi perusahaan-perusahaan tambang batu bara saat ini masih cukup optimistis terkait dengan ekspor batu bara mereka," sebut Daevrie.
Pengusaha tambang di Kaltim sudah sejak lama bersiap menghadapi tantangan ini dan telah memiliki strategi masing-masing untuk mengatasinya.
Meski begitu biasanya penurunan ekspor batu bara ini akan sedikit berdampak pada perusahaan tambang, seperti pengurangan jam kerja karyawan atau pengurangan aktivitas kegiatan pertambangan.
Terkait potensi industri batu bara di masa mendatang, Dinas ESDM Kaltim telah bersiap dengan Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) yang digalakkan bersama perusahaan-perusahaan tambang batu bara.
"Ketika nanti industri batu bara sudah tidak beroperasi lagi di Kaltim ada yang diwariskan oleh perusahaan tambang kepada masyarakat Kaltim, seperti aspek kemandirian ekonomi, pelatihan-pelatihan, maupun kebermanfaatan yang bisa dirasakan masyarakat di masa akan datang," jelas Daevrie.
Editor: Aspian Nur