“Potensinya besar, tapi pelatihannya belum ada,” ucapnya Senin (8/11)
Ia melanjutkan, dulu memang pernah ada pelatihan pembuatan nata de coco, namun hal itu sudah sudah lama dan tidak dilakukan secara kontinyu. Ia mengaku bahwa dirinya akan bersurat ke instansi terkait, jika memang harus bersurat untuk meminta adanya pelatihan tersebut.
Dikatakannya pelatihan memang diperlukan untuk mengasah skill warga dalam mengelola kelapa tersebut. Selama ini menurutnya, hanya dikelola dengan standar, dalam artian hanya dijual dalam keadaan utuh.
“Penjualan memang masih standar, kita ada keinginan untuk meningkatkan perekonomian melalui UMKM itu,” tuturnya.
Selain pengembangan nata de coco, Abdul Malik juga mengatakan, untuk street food bisa saja dilakukan di Biduk Biduk, mengingat kawasan tersebut cukup ramai dengan pengunjung, namun masih kurang area untuk bersantai dan menyantap makanan.
“Kalau sepanjang pantai tidak mungkin, kemungkinan akan difokuskan di satu kampung saja,” katanya.
Ia melanjutkan, kampung yang kemungkinan didorong untuk area street food adalah Giring-Giring, karena berada di tengah kecamatan. Selain itu, untuk jaringan internet di lokasi tersebut cukup bagus. Sehingga wisatawan bisa bersantai dan menikmati deburan ombak.
“Kita dorong di sana. Dan akan ada pelatihan juga,” paparnya.
Ia mengatakan, potensi cukup terbuka lebar di Bidukbiduk, baik sektor wisata maupun olahan pangannya. Dengan adanya UMKM yang berkembang, ia yakin Bidukbiduk, bisa berkembang dengan pesat.
“Sumber Daya Alam (SDA) kita mendukung, baik perikanan, maupun sisi perkebunan. Bisa jadi oleh-oleh bagi masyarakat yang datang kesini,” pungkasnya.
Penulis : */Rama
Editor : Bambang Irawan
Berita/artikel ini sudah terbit di Koran Kaltim edisi cetak Selasa tanggal 09 November 2021