Aini yang berasal dari Daerah Pemilihan (Dapil) II Kecamatan Tenggarong Seberang, Muara Kaman dan Sebulu ini merasa khawatir dengan dampak kasus ini terhadap kepercayaan masyarakat pada dunia pendidikan khususnya pondok pesantren.
“Jujur saya kegemetaran saat mendengar kasus ini. Karena saya langsung teringat dengan anak-anak saya yang juga belajar di ponpes,” kata Aini.
Legislator PAN ini mengungkapkan meski dirinya bukan alumni pesantren, namun suaminya merupakan lulusan dari salah satu ponpes terkenal. Hal itulah yang mendorong dirinya bersama sang suami untuk memasukkan anak-anaknya di pesantren.
“Kita menitipkan anak ke pondok ini supaya pondasi agamanya kuat, bukan untuk hal-hal yang merusak, tapi dengan kabar begitu kan jadi cemas,” ungkapnya.
Menurutnya, orang tua memilih pondok karena berharap anak-anak mereka lebih disiplin beribadah sekaligus mendalami ilmu agama yang mungkin tidak sempat diajarkan langsung di rumah.
“Jadi, tujuan orang tua menitipkan anak di pondok adalah agar salatnya tepat waktu, memahami agama, bahkan bisa hafal Quran,” jelasnya.
Karena itu, Aini menilai dampak dari kasus ini maka berpotensi menimbulkan stigma negatif terhadap pesantren lain yang sebenarnya berfungsi dengan baik.
“Gara-gara nila setitik, rusak susu sebelanga. Masalah di satu pondok bisa berimbas ke pondok-pondok pesantren lain. Orang tua bisa jadi takut menitipkan anaknya. Padahal pondok adalah tempat anak-anak kita belajar agama dengan lebih baik,” tegasnya.
Dia menekankan, saat ini yang terpenting adalah mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pendidikan agama, sekaligus memperketat pengawasan agar kasus serupa tidak terjadi kembali.
Ketika ditanya apakah sepakat atau tidak terkait desakan menutup ponpes yang dimaksud. Aini bersikap diplomatis dengan mengilustrasikan jika di dalam rumah ada tikus bukan justru membakar rumahnya, namun mencari tikusnya dan membunuhnya lalu dibuang.
“Kami harap dengan kasus ini, ponpes tersebut menjadikannya pelajaran untuk memperketat pengawasan internal. Kita ingin anak-anak tetap bisa belajar agama dengan aman, dan kepercayaan masyarakat tidak hilang,” demikian Aini. (adv)
Editor: Erwin