RDP ini dihadiri perwakilan tokoh masyarakat, Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kukar dan tamu undangan lainnya. Ahmad Yani mengungkapkan persoalan ini bermula adanya pembangunan kanal banjir di Muara Badak yang dilakukan di tahun 2012-2013 namun tidak tuntas.
“Bahkan yang menjadi masalah karena masyarakatnya itu tidak dilakukan pembebasan sebagian sudah sebagian tidak. Bahkan ada yang sudah digali lahannya sudah dirusak dan seterusnya tapi ternyata itu tidak dibayar sampai saat ini, nilainya sangat fantastis karena sampai menembus 8 miliar,” ungkap Yani.
Legislator PDIP ini menyatakan angka tersebut bukan angka sedikit sehingga diharapkan walaupun sebenarnya PU melalui kepala dinasnya Wiyono itu sudah menjanjikan di APBD perubahan, tetapi kan kita tahu bahwa APBD Kukar saat ini lagi bermasalah karena isu defisit anggaran.
“Oleh karena itu kalau memang tidak bisa dianggarkan ya mudah-mudahan potensi untuk tahun 2026 bisa dilakukan. Dan ini seharusnya dilaksanakan kami harap juga ini direncanakan ulang. Jadi ada desain ulang terkait dengan kanal yang akan dibangun itu. Tentu di tahun 2012 atau 2013 tidak sesuai lagi dengan kondisi saat ini,” jelasnya.
Sehingga perlu ada perubahan-perubahan rencana strategis terkait dengan pembangunan kanal yang memang difungsikan untuk mengatasi banjir. Ketua DPRD Kukar menyatakan pihaknya siap mendorong agar secepatnya pembangunan bisa dituntaskan. Diketahui pembangunan sebagian sudah berjalan dan diharapkan harus dilanjutkan dan dituntaskan.
Sehingga nilai value-nya itu luar biasa.
“Kalau saat ini kan kanalnya separuh, sebagian, sebagian dirusak sudah lahan warga, tetapi kan tidak ada nilai manfaatnya, malahan memproduksi banjir kalau tidak dituntaskan. Oleh karena itu kami DPRD akan konsen di sini dan menyoroti supaya ini bisa dilakukan. Tolong direncanakan kembali dengan baik, kemudian dilakukan inventarisasi terkait dengan lahan-lahan masyarakat yang terkena. Dan pada intinya bagaimana pembangunan fisiknya juga bisa direncanakan supaya asas manfaatnya kepada masyarakat bisa dinikmati masyarakat,” demikian Yani. (adv)