Acara adat ini dimulai sejak Sabtu (26/7/2025) dan resmi berakhir pada hari ini Sabtu (2/8/2025). Pelaksanaan Erau Adat Benua Tuha terasa istimewa dan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Hal ini terlihat dari kehadiran Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Sultan Aji Muhammad Arifin bersama kerabat kesultanan yang disambut dengan prosesi adat “Beluluh” yakni sebuah upacara penyucian yang dilaksanakan oleh Kesultanan sebelum dimulainya Festival Erau.
Prosesi ini bertujuan untuk membersihkan diri dari energi negatif serta memohon keselamatan dan berkah bagi masyarakat Kutai.
Kamarur Zaman yang juga merupakan putra asli Muara Kaman menyampaikan apresiasi mendalam terhadap pelestarian tradisi Erau yang tetap terjaga di Desa Sabintulung.
“Saya sangat mengapresiasi pelaksanaan Erau di Sabintulung. Ini bukan hanya soal tradisi, tetapi juga mempererat silaturahmi antara kesultanan, pemerintah, masyarakat, dan berbagai suku. Di tengah era digital seperti sekarang, kita perlu terus mempertahankan adat dan budaya kita sebagai kekayaan bangsa,” ujarnya dikonfirmasi korankaltim.com, Sabtu (2/8/2025).
Pak Mon sapaan akrab Kamarur Zaman juga menjelaskan bahwa Erau di Sabintulung memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan Erau yang digelar di Ibu Kota Kabupaten Kukar, Kota Tenggarong. Jika Erau di Tenggarong cenderung menampilkan berbagai kegiatan seni dan budaya dalam skala besar, maka Erau di Sabintulung lebih menitikberatkan pada upacara adat dan spiritualitas masyarakat setempat.
Sabintulung dikenal sebagai tanah sakral dan tertua dalam sejarah Kerajaan Kutai, yang dulunya menjadi tempat penyampaian hasil bumi kepada Sultan sebagai bentuk penghormatan dan loyalitas rakyat kepada kerajaan.
“Pada prinsipnya, Erau Adat Benua Tuha adalah bentuk pesta rakyat yang bersifat spiritual dan sosial. Tradisi ini dimaknai sebagai persembahan kepada arwah para raja dan sesepuh Kerajaan Kutai, sekaligus menjadi sarana hiburan dan perekat sosial bagi masyarakat,” jelas Legislator Golkar ini.
Dengan kehadiran berbagai unsur pemerintahan, tokoh adat, serta masyarakat umum, Erau Adat Benua Tuha 2025 tidak hanya menjadi ajang pelestarian warisan budaya, tetapi juga menjadi momentum memperkuat jalinan harmoni antara adat, agama, dan pemerintahan di Kabupaten Kutai Kartanegara. (adv)