“Reses itu kan kita kembali ke konstituen masing-masing guna mendengarkan secara langsung apa yang dibutuhkan masyarakat untuk peningkatan pembangunan. Agar suasana penyampaian aspirasi berlangsung kental rasa kekeluargaan, kita lakukan dengan tradisi beseprah,” kata Ica sapaan akrab Dayang Marissa kepada korankaltim.com, Kamis (1/9/2022).
Sebagai informasi, tradisi beseprah adalah duduk bersama-sama bersila, menyantap hidangan dalam suasana akrab yang amat kental. Warga yang ikut tradisi ini berasal dari status sosial yang beragam, saat berlangsungnya acara ini maka perbedaan status sosial itu sama sekali tidak terasa.
Sejarah beseprah sendiri ialah melestarikan budaya adat Kutai yakni yang dimasa lalu diselenggarakan oleh sultan atau raja yang berkuasa sebagai jamuan persembahan bagi rakyatnya.
Jamuan tersebut menjadi simbolisasi harapan dan doa yang dipanjatkan oleh sultan agar dapat menjadi pemimpin yang selalu mengayomi masyarakat yang dipimpinnya. Acara ini pun menjadi perlambang keinginan sultan untuk membaur dan merasakan yang dirasakan oleh rakyatnya.
Beseprah memang melambangkan kesejajaran antarberbagai kalangan masyarakat. Secara pemaknaan, beseprah berarti duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Penyelenggaraan tradisi ini sebagai ajang menjalin rasa persaudaraan warga Kutai dan mempererat silaturahmi antar sesama. Selain itu, dalam tradisi ini, terdapat pesan moral bahwa seorang pemimpin haruslah dekat dan membaur dengan semua rakyatnya.
“Dengan suksesnya pelaksanaan reses kami kemarin dengan tradisi beseprah, semoga kita semua bisa terus saling menjaga adat budaya yang luhur ini untuk kita wariskan ke anak cucu kita nanti. Dan dari serap aspirasi yang kami lakukan ini selanjutnya kami perjuangkan di lembaga legislatif Kutai Kartanegara,” demikian Ica.
Penulis: Muhammad Heriansyah
Editor: Maruly Zainuddin