“Kegiatan ini bukan hanya lomba, tetapi proses membangun generasi yang dekat dengan Al-Qur’an. Dari tingkat kabupaten, peserta terbaik akan melanjutkan ke tingkat provinsi, bahkan berpeluang tampil di level nasional,” ujarnya.
Ia menambahkan, rangkaian kegiatan Sehari Bersama Al-Qur’an yang dipadukan dengan seleksi MHQ merupakan gerakan pembinaan ruhiyah yang berdampak jangka panjang, khususnya bagi generasi muda di wilayah perbatasan Kalimantan Utara.
Menurutnya, kebangkitan umat tidak hanya bertumpu pada kekuatan ekonomi dan politik, tetapi juga pada generasi yang memiliki kedekatan dengan Al-Qur’an—tidak sekadar membaca dan menghafal, melainkan memahami serta mengamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari.
“Menambah hafalan adalah wujud cinta kepada Al-Qur’an. Namun yang lebih utama adalah menghadirkan nilai-nilainya dalam sikap, kepemimpinan, dan pengabdian di tengah masyarakat,” katanya.
Ia juga memberikan apresiasi kepada panitia dan peserta atas antusiasme yang ditunjukkan. Komitmen kader dan masyarakat di Nunukan dinilai mencerminkan kesungguhan dalam membangun generasi Qur’ani di daerah perbatasan.
Diharapkan, dari seleksi ini lahir hafizh dan hafizhah yang tidak hanya unggul dalam lomba, tetapi juga mampu membawa nama daerah hingga tingkat nasional serta memberi kontribusi positif bagi masyarakat. (Adv)
Editor: Erwin