Karena waktu terbatas menjelang berbuka dan adanya tausiyah, penyampaian aspirasi dilakukan secara terbuka dan fleksibel. Warga menyampaikan masukan secara langsung saat kegiatan berlangsung, serta melalui pesan WhatsApp dan telepon setelah acara selesai.
Beragam persoalan strategis mencuat dalam forum tersebut, mulai dari isu pendidikan berbasis teknologi hingga kesejahteraan petani dan nelayan.
Salah satu sorotan datang dari kalangan generasi muda. Perwakilan Gen Z menilai Nunukan masih tertinggal dalam hal akses teknologi dan komunikasi. Mereka menyoroti minimnya fasilitas komputer dan laboratorium di sejumlah sekolah, serta terbatasnya jaringan internet di wilayah desa dan pedalaman.
“Sulit bagi kami untuk bersaing jika fasilitas dasar belum memadai,” ujar salah satu perwakilan pelajar dalam forum tersebut.
Selain isu pendidikan dan teknologi, masyarakat pesisir mengeluhkan harga rumput laut yang dinilai belum membaik dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi itu berdampak langsung terhadap pendapatan petani dan stabilitas ekonomi keluarga.
Kelompok gabungan tani (Gapoktan) dan nelayan turut mengusulkan bantuan sarana dan prasarana produksi. Sementara pelaku UMKM meminta dukungan tambahan modal serta bantuan peralatan agar usaha mereka dapat berkembang dan lebih kompetitif.
Permohonan hibah untuk rumah ibadah dan organisasi kemasyarakatan juga disampaikan sebagai bagian dari penguatan kehidupan sosial dan spiritual masyarakat. Di sektor pendidikan, warga mengusulkan peningkatan sarana prasarana sekolah serta bantuan untuk panti asuhan.
Infrastruktur jalan, baik jalan permukiman maupun jalan usaha tani, menjadi aspirasi lain yang dianggap mendesak karena berkaitan langsung dengan kelancaran aktivitas ekonomi warga. Selain itu, masyarakat meminta bantuan bibit untuk usaha perikanan dan peternakan, serta program beasiswa bagi pelajar dari keluarga kurang mampu.
Menanggapi berbagai masukan tersebut, Muhammad Nasir menegaskan bahwa reses bukan sekadar agenda formal tahunan.
“Antusiasme ratusan warga malam ini menjadi bukti bahwa masyarakat membutuhkan ruang untuk menyampaikan harapan dan persoalan mereka. Semua aspirasi akan kami kawal dan perjuangkan sesuai kewenangan provinsi maupun kabupaten,” katanya.
Isu teknologi pendidikan, kesejahteraan nelayan dan petani, serta penguatan UMKM menjadi bagian dari fokus kerja Komisi II DPRD Kaltara.
“Kita ingin generasi muda Nunukan siap bersaing. Kita ingin petani dan nelayan mendapatkan keadilan harga. Kita juga ingin UMKM naik kelas. Aspirasi ini akan kami dorong dalam pembahasan anggaran dan kebijakan,” ujarnya.
Untuk usulan yang menjadi kewenangan pemerintah kabupaten, Nasir menyatakan akan membangun koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Nunukan dan DPRD kabupaten agar penanganannya dapat dilakukan secara sinergis.
Reses yang dipadukan dengan buka puasa bersama itu pun menjadi momentum kebersamaan antara wakil rakyat dan masyarakat. Di bulan Ramadhan, aspirasi disuarakan dengan harapan pembangunan yang lebih merata, berkeadilan, dan menyentuh kebutuhan warga hingga tingkat paling bawah. (adv)