Menurut Tamara, edukasi harus menyasar berbagai lapisan masyarakat secara berkelanjutan, mulai dari lingkungan pendidikan hingga masyarakat umum. Selain itu, pendekatan edukatif juga perlu difokuskan pada lokasi-lokasi yang memiliki potensi risiko tinggi.
“Penguatan edukasi harus dilakukan secara menyeluruh, baik di lingkungan pendidikan, masyarakat umum, maupun di lokasi-lokasi yang berpotensi berisiko, dengan melibatkan peran aktif pemerintah daerah,” ujar Tamara.
Ia menilai, keterlibatan pemerintah daerah menjadi faktor penting agar program edukasi berjalan terarah, konsisten, dan berdampak langsung di masyarakat. Edukasi yang tepat, kata dia, tidak hanya meningkatkan pemahaman, tetapi juga membangun kesadaran kolektif dalam mencegah penyebaran HIV/AIDS.
Tamara juga menegaskan bahwa pendekatan edukasi harus dilakukan secara persuasif dan humanis, sehingga tidak menimbulkan stigma maupun diskriminasi terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Menurut dia, stigma justru berpotensi menghambat upaya deteksi dini dan penanganan.
“Edukasi yang baik akan mendorong masyarakat lebih terbuka untuk melakukan pemeriksaan dan mendapatkan layanan kesehatan, tanpa rasa takut atau dikucilkan,” katanya. (adv)