Penulis: Indri
KORANKALTIM.COM, TANJUNG REDEB – Upaya pelestarian museum dan situs sejarah di Kabupaten Berau mulai mendapat sorotan baru.
1 menit baca0 kali dibaca

Penulis: Indri
KORANKALTIM.COM, TANJUNG REDEB – Upaya pelestarian museum dan situs sejarah di Kabupaten Berau mulai mendapat sorotan baru.
Bukan lagi soal kondisi fisik bangunan, melainkan lemahnya penyajian cerita sejarah yang dinilai membuat warisan budaya kehilangan daya tarik edukatif bagi masyarakat maupun wisatawan.
Sejumlah pemerhati budaya menilai revitalisasi museum selama ini masih berfokus pada perawatan struktur bangunan, tanpa diiringi kurasi informasi yang kuat.
Akibatnya, museum belum sepenuhnya berfungsi sebagai ruang pembelajaran sejarah yang hidup.
Wakil Ketua II DPRD Berau, Sumadi, menyebut keberadaan Museum Gunung Tabur dan Museum Sambaliung memang menjadi simbol penting kejayaan dua kesultanan besar di Berau.
Namun, menurutnya, tantangan utama justru terletak pada bagaimana sejarah tersebut dikemas secara relevan bagi generasi masa kini.
“Bangunan sudah ada, tetapi narasi sejarahnya belum tersampaikan secara utuh kepada pengunjung,” ujarnya.
Ia mencontohkan, sejumlah situs sejarah yang kerap menimbulkan salah tafsir akibat minimnya informasi resmi di lapangan, salah satunya nisan kuda di Pulau Derawan.
Kurangnya penjelasan kontekstual membuat nilai sejarah yang seharusnya menjadi edukasi justru berubah menjadi cerita spekulatif di masyarakat.
“Harus ada pendekatan pelestarian dari sekadar konservasi fisik menuju edukasi berbasis pengalaman,” jelasnya.
Penyediaan papan informasi interaktif, penulisan buku sejarah lokal, pengembangan katalog digital, hingga kehadiran pemandu wisata berlisensi dinilai menjadi kebutuhan mendesak.
Langkah tersebut juga dianggap penting untuk memperkuat identitas wisata Berau yang selama ini lebih dikenal melalui destinasi bahari.
Tanpa narasi sejarah yang kuat, potensi wisata budaya dikhawatirkan terus berada di bawah bayang-bayang popularitas wisata alam.
Pemerhati budaya pun menekankan pentingnya kepemimpinan dinas terkait yang mampu mengintegrasikan pelestarian budaya dengan strategi pariwisata modern.
“Dengan kurasi yang tepat, situs sejarah bukan hanya dilestarikan, tetapi menjadi pintu masuk memahami identitas Berau secara utuh,” tandasnya. (Adv)
Editor: Erwin






47 kali dibaca

Pusat gempa berada di darat 2 km Barat Kolaka
02 Okt 2026, 18:34:10 WIB • Kedalaman 5 km
Gempa ini dirasakan untuk diteruskan pada masyarakat
Sumber: BMKG