Kamis, 21/03/2019
Kamis, 21/03/2019
Ilustrasi (Sumber Gambar: www.tes.com)
Kamis, 21/03/2019

Ilustrasi (Sumber Gambar: www.tes.com)
Pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan (PJOK) dan olahraga memiliki kaitan yang erat namun tidak sama persis. Olahraga merupakan aktifitas fisik yang melibatkan kompetensi atau tantangan terhadap diri sendiri, orang lain atau lingkungan dengan menekankan sebuah kemenangan. Berbeda dengan pengertian olahraga, tertulis di dalam kurikulum bahwa pendidikan jasmani adalah perkembangan menyeluruh anak, menekankan pengembangan pribadi dan sosial, pertumbuhan fisik, dan perkembangan motorik. Penetapan tujuan dalam kurikulum berfokus pada perbaikan individu dan bukan menang atau menjadi yang terbaik (Curriculum Physical Education Ireland, 1999:6). Dari pernyataan tersebut, disarikan bahwa pendidikan jasmani merupakan pendidikan yang mengembangkan seluruh aspek yang ada pada diri seseorang sehingga tidak hanya terbatas dari aspek perkembangan fisik saja.
Kurikulum Physical Education (PE) menawarkan kegiatan fisik yang beragam untuk memenuhi kepentingan pribadi siswa dan oleh karena itu, dapat menjadi tantangan bagi guru untuk menumbuhkan motivasi besar kepada semua siswa (Kersey dan Spray, 2015:108). Diringkaskan bahwa, tujuan pembelajaran pendidikan jasmani itu harus mencakup tujuan dalam domain pisikomotorik, kognitif, dan afektif. Dalam pendidikan jasmani dan kesehatan guru memberikan kesempatan dan kebebasan kepada peserta didik untuk mengembangkan motorik kasar ataupun motorik halus melalui berbagai kegiatan baik itu melalui permaian dan melalui media sebagai alat penunjang aktifitas (Rosdiani, 2013:34).
Guru dalam proses belajar mengajar membutuhkan bahan ajar sebagai alat untuk mengajar di depan kelas pada saat pembelajaran berlangsung, yang mana bahan ajar dapat berupa apa saja baik itu berbentuk cetak maupun noncetak. Dalam Departemen Pendidikan Nasional (2006:1) menyatakan bahwa pembelajaran dan buku pelajaran merupakan dua hal yang saling melengkapi. Pembelajaran akan berlangsung secara efektif bila dilengkapi dengan media pembelajaran yang relatif penting, yaitu buku pelajaran. Buku pelajaran dapat disusun serta digunakan dengan baik jika memperhatikan prinsip-prinsip dalam pembelajaran. Pembelajaran menyangkut masalah siswa, guru, materi bahan ajar, cara penyajian bahan ajar, dan latihan. Komponen tersebut harus tercermin di dalam buku pelajaran. Dari pernyataan ini, dipahami bahwa dalam proses pembelajaran yang efektif diperlukan buku pelajaran sebagai pedoman. Ada dua faktor yang harus diperhatikan, yaitu materi bahan ajar dan cara penyajian.
Bahan ajar dapat diperoleh dengan berbagai macam cara sehingga tidak hanya terfokus pada satu sumber saja yaitu buku. Pada abad ke-21 ini, buku dirasa masih dominan digunakan oleh pengajar sebagai satu-satunya bahan dalam menyampaikan materi, padahal di era ini, teknologi seharusnya dapat dimanfaatkan dalam proses belajar mengajar. Hal tersebut mengingat teknologi ikut serta dalam perkembangan pendidikan saat ini seperti dikatakan Seydakhmetov dkk (2015:110), bahwa penggunaan teknologi dalam pendidikan yang modern memberi kesempatan kepada siswa untuk berpikir dan mempersiapkan diri mereka ke masa yang akan datang. Teknologi dalam pendidikan modern juga memberikan kesempatan kepada siswa dan guru memperoleh sesuatu yang lebih inovatif.
Pendidikan kini sudah berada di zaman modern, semua orang bisa mendapatkan informasi baik berupa ilmu pengetahuan, berita dan lain-lain secara cepat dan transparan. Namun pada dasarnya semua itu tergantung bagaimana diri kita (pengguna) berinisiatif untuk mencapainya, karena pengetahuan saat ini sudah tersebar dimana-mana. Di era digitalisasi saat ini, pemanfaatan teknologi dirasa sangat perlu dalam pendidikan terlebih lagi dalam pembelajaran PJOK, kita ketahui bahwa dalam PJOK ada beberapa pengetahuan yang tidak dapat dijangkau dengan kasat mata seperti detak jantung ketika melakukan lari, bagimana reaksi otot ketika melakukan gerakan-gerakan dan lain-lain, seingga pemanfaatan teknologi dirasa dapat membantu dalam memperoleh pengetahuan yang lebih dalam dan luas, menurut Amin (2013:9) pengembangan teknologi informasi dan komunikasi dalam pendidikan akan memiliki dampak yang sangat besar pada proses belajar mengajar, kualitas, aksibilitas pendidikan, motivasi belajar, lingkungan, penggunannya dan kinerja dalam belajar. Teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam pendidikan memiliki dampak positif pada hasil pembelajaran. Juga dikatakan Higon (2011:696) “aplikasi TIK tidak hanya memiliki dampak tertentu dilihat dari aktivitasnya tetapi mungkin memberikan kebutuhan yang berbeda dalam hal sumber daya”.
Banyak faktor yang dapat dihasilkan dari pemanfaatan teknologi dalam proses belajar mengajar salah satunya seperti dikatakan Fisher dkk (2010:311) bahwa “melalui penggunaan program komputer dalam pendidikan saat ini membuat menjadi professional dan efektif mengembangkan praktik pembelajaran yang inovatif tersedia dalam skala luas di dalam sebuah format dan guru dapat dengan mudah untuk mengaksesnya”. Kemudian penggunaan teknologi untuk siswa dikatakan Stosic (2015:111), bahwa “dengan aplikasi dalam teknologi pendidikan siswa memiliki kemajuan dalam menguasai bahan ajar, memiliki kecepatan kerja dan dapat mengulang materi yang kurang jelas dengan mandiri”. Secara keseluruhan dampak memanfaatkan teknologi sangat besar seperti dikatakan Darmawan (2011:54) berkembangnya ilmu dan teknologi membawa perubahan pula pada bahan ajar, yang mana sebelum berkembangnya teknologi dalam dunia pendidikan dalam pengajaran masih menggunakan bahan tercetak. Produk TI saat ini memberikan alternatif berupa bahan ajar yang dapat diakses peserta didik yang tidak dalam bentuk kertas, tetapi berbentuk CD, DVD, Flashdisk, dan lain-lain. Inti dari bahan tersebut berupa program/software yang dapat dimanfaatkan dengan sekedar mengambil data, membaca, mengunduh sampai berinteraksi antarprogram yang bisa dilakukan oleh siswa dan guru dalam memanfaatkan komputer. Dari pernyataan tersebut, dapat dirangkum bahwa dengan hadirnya teknologi dalam pendidikan, akan mempengaruhi pendidikan itu sendiri.
Guru PJOK dalam proses belajar mengajar, semestinya dapat memberikan alternatif menggunakan perangkat atau program untuk diberikan dan digunakan sebagai bahan ajar dalam proses pembelajaran, dikatakan alternatif karena PJOK bukan hanya sebatas mengasah kognitif siswa nya saja tetapi perlu peraktik langsung di lapangan sebagai proses pengembangan dalam aspek pisikomotor siswa nya juga. Hal tersebut senada dikatakan Mullamaa (2010:38), dengan memanfaatkan teknologi mendorong siswa untuk melakukan pekerjaannya yang lebih efektif/mengeluarkan potensi yang terbaik dari diri siswa serta hal tersebut dapat meningkatkan motivasi siswa.
Guru semestinya menyadari bahwa teknologi itu merupakan alat yang dapat membantu dalam proses pembelajaran, dapat membantu dalam perkembangan pengetahuan dan berbagai hal. Hal ini sesuai dengan pendapat Costley (2014:9) bahwa integrasi teknologi menjadi lebih umum di sekolah negeri dan swasta. Integrasi teknologi terbukti efektif dalam semua kelompok usia dan juga terbukti membantu bagi siswa dengan kebutuhan belajar khusus. integrasi teknologi memiliki tujuh keuntungan, yaitu: 1) meningkatkan motivasi belajar siswa, 2) meningkatkan keterlibatan siswa, 3) meningkatkan kerjasama siswa, 4) meningkatkan kesempatan belajar, 5) memungkinkan untuk belajar di semua tingkatan, 6) meningkatkan kepercayaan diri pada siswa, dan 7) meningkatkan keterampilan teknologi.
Guru juga harusnya memperhatikan karakteristik siswa dalam hal gaya belajarnya disetiap proses pembelajaran yang berlangsung, yang mana hal tersebut bertujuan untuk mengetahui bagaimana informasi yang tepat diberikan kepada siswa agar dapat membantu mereka dalam pemahaman yang lebih baik sebagai upaya dalam meningkatkan motivasi belajar siswa. Mengenai pengaruh tersampaikannya informasi secara jelas dan dapat diterima, menurut Marcus (1977:112), “setiap guru harus menyadari gaya belajar siswanya untuk merencanakan strategi mengajar secara efektif”. Menurut Pashaler, dkk. (2009:106), “istilah gaya mengajar adalah mengacu pada orang yang berbeda memahami informasi dengan cara yang berbeda”. Kemudian Cassidy (2004:420) menyatakan, “bahwa pendidikan di segala bidang semakin sadar akan pentingnya memahami gaya belajar setiap individu”. Dengan perbedaan karakteristik setiap individu dan banyaknya budaya yang ada di Indonesia, tentu setiap orang memiliki gaya belajar yang berbeda-beda.
Budaya dan pendidikan kadang menjadi tumpang tindih, sehingga perlunya mempertimbangkan atau merancang metode dan konten untuk peserta didik yang memiliki gaya belajar yang berbeda-beda (Hyland, 1993:69). Selain itu, menurut Rolfe (2012:176), gaya belajar dapat dilihat sebagai karakteristik pembelajar, yang mana gaya belajar mempengaruhi dimana orang yang belajar. Berdasarkan pernyataan terkait gaya belajar, maka peneliti menyimpulkan, pengajar perlu memperhatikan gaya belajar peserta didik sebagai awal sebelum memberikan pembelajaran agar tercapainya pembelajaran atau hasil belajar yang diinginkan serta menyadari apa yang tepat untuk diberikan pada lingkungan tersebut.
Guru perlu memperhatikan gaya belajar siswanya dengan secara tidak langsung mendukung untuk perlunya guru menguasai gaya belajar agar dapat memberikan informasi kepada seluruh siswanya dengan tujuan apa yang disampaikan dapat dipahami tanpa keterbatasan. Selain itu, beberapa gaya belajar VAK, yaitu gaya belajar melalui visual, audio, atau kinestetik semestinya menjadi pengetahuan yang sudah dimiliki oleh pengajar, Maksudnya, pengajar mengetahui bagaimana cara mengajar untuk setiap masing-masing gaya mengajar VAK tersebut dengan harapan agar informasi yang disampaikan dapat diterima dan dipahami oleh peserta didik. Kemudian di luar dari gaya belajar, ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajar siswa. Menurut Gilakjani dan Ahmadi (2011:470), dalam proses belajar ada lima faktor yang mempengaruhi siswa, yaitu keadaan di sekitar belajar, motivasi, ketekunan, teman, dan kebutuhan lainnya. Dari pernyataan tersebut, peneliti menyimpulkan, ketika situasi dalam proses pembelajaran menarik atau hal lainnya positif, maka akan mempengaruhi si pebelajar tersebut. Sehingga pendidik perlu dalam menciptaknya lingkungan belajar yang baik untuk menciptakan hasil yang baik pula, senada dengan itu dikatakan Hariadi (2017:601) bahwa lingkungan yang baik akan dapat memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak.
Penggunaan teknologi pada pendidkan juga dapat memberikan pengaruh lain. Hal ini seperti yang dikatakan oleh Salameh dan Khawaldeh (2014:147), bahwa penggunaan teknologi dalam pembelajaran memberikan tanggung jawab yang baru di mana pelajar menjadi lebih aktif dalam mencari tahu, serta instrukturnya berperan sebagai perancang dalam lingkungan pendidikan dengan gaya yang lebih modern dalam mengembangkan kemampuan siswanya dan mendorong siswa untuk dapat memecahkan masalah melalui internet. Senada dengan hal tersebut, menurut Zaman (1993:143), teknologi informasi, contohnya penggunaan peralatan seperti komputer, perekam video, dan pemutar audio dalam menyimpan, mengambil dan menyebarkan informasi. Sebagai komunikasi yang tersistem dalam memanipulasi dan mentransfer informasi untuk tujuan pengendalian dan penanganan mesin, memiliki keunggulan dibandingkan metode informasi tradisional. Di bidang pendidikan (baik dalam belajar dan mengajar atau di pendidikan guru), penggunaan informasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses belajar dan mengajar. Demikian, teknologi informasi tidak hanya diperkenalkan dan digunakan dalam proses belajar dan mengajar, tetapi juga harus menjadi subjek baru dalam kurikulum pendidikan guru.
Kamis, 21/03/2019
Ilustrasi (Sumber Gambar: www.tes.com)
TERPOPULER