Kawasan ini ditumbuhi sekitar 500 ribu pohon mangrove yang menjadi benteng alami sekaligus sumber kehidupan bagi masyarakat pesisir.
Hutan mangrove ini bukan sekadar deretan pepohonan di tepian laut. Ia adalah nadi kehidupan yang menjaga keseimbangan ekosistem dan melindungi beragam satwa.
Di antara rimbunnya akar dan lumpur, terdapat sosok Hadi Wiyoto — penjaga hutan yang telah puluhan tahun merawat kawasan ini dengan penuh cinta dan ketekunan.
Perjalanan panjang Hadi Wiyoto tak selalu mudah. Namun, cahaya baru datang ketika Pupuk Kaltim hadir dengan komitmen besar menjadikan kawasan tersebut sebagai ekowisata mangrove berkonsep edukasi dan konservasi.
Kolaborasi ini menghadirkan harapan baru bagi warga sekitar untuk terus menjaga dan memanfaatkan mangrove secara berkelanjutan.
Anak-anak kini kerap terlihat berlarian di antara pepohonan mangrove, mereka belajar langsung tentang pentingnya ekosistem pesisir melalui sekolah konservasi yang digagas oleh pengelola dan didukung Pupuk Kaltim.
Edukasi lingkungan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Bontang.
Namun, di balik dukungan besar dari sang “raksasa amonia” tersebut, tantangan tetap ada. Sampah masih menjadi persoalan utama di kawasan mangrove.
Jika serpihan plastik menyentuh akar muda, napas bibit mangrove bisa terhenti. Kondisi ini menjadi pengingat bahwa menjaga alam memerlukan kesadaran kolektif seluruh pihak.
Pupuk Kaltim hadir bukan sekadar menjalankan program tanggung jawab sosial, tetapi juga menanam kesadaran baru.
Perusahaan ini memastikan akar-akar mangrove tetap bernafas, menjaga nadi kehidupan agar terus berdenyut di jantung Bontang.
Kini, hutan mangrove Teluk Bangko telah bertransformasi menjadi simbol kerja sama antara manusia dan alam.
Dari akar yang menembus lumpur, tumbuh kemandirian masyarakat. Warga mengolah hasil mangrove menjadi sirup dan bahan dasar dodol — wujud nyata keseimbangan antara pelestarian alam dan peningkatan ekonomi.
Di setiap helai daun mangrove tersimpan pesan sunyi, bahwa kesejahteraan sejati tumbuh dari harmoni antara manusia dan bumi yang dijaganya.