Penulis: Indri
KORANKALTIM.COM, TANJUNG REDEB - Kabut asap kembali mengepung Kabupaten Berau dalam dua hari terakhir, terutama pada sore hari. Kondisi ini mengganggu jarak pandang warga hingga turun sekitar 1,2 kilometer (km).
2 menit baca2 kali dibaca

Penulis: Indri
KORANKALTIM.COM, TANJUNG REDEB - Kabut asap kembali mengepung Kabupaten Berau dalam dua hari terakhir, terutama pada sore hari. Kondisi ini mengganggu jarak pandang warga hingga turun sekitar 1,2 kilometer (km).
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau menduga kabut asap tersebut merupakan kiriman dari daerah lain di Kaltim. Dugaan itu menguat setelah data Stasiun Meteorologi Kelas II Kalimarau menunjukkan konsentrasi titik panas justru berada di wilayah Kutai Kartanegara dan Paser.
Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, mengatakan pihaknya telah mencermati perubahan kondisi cuaca dan kemunculan kabut asap yang terjadi sejak Minggu (4/10/2026).
“Iya, setiap sore kerap muncul kabut asap yang cukup mengganggu,” ujarnya.
Berdasarkan pemantauan pemerintah daerah, asap mulai terlihat sekitar pukul 14.00 Wita pada Minggu, terutama di wilayah selatan Berau. Sehari kemudian, sebarannya semakin meluas hingga menutupi sejumlah wilayah Berau.
Sri mengatakan pihaknya juga telah berkomunikasi dengan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait untuk memastikan kondisi karhutla di wilayah Berau. Namun, dalam beberapa waktu terakhir tidak terdapat penanganan karhutla yang signifikan.
“Saya sudah berkomunikasi dengan OPD kami, belakangan ini penanganan karhutla tidak ada,” katanya.
Sementara itu, data Stasiun Meteorologi Kelas II Kalimarau per 5 Oktober 2026 menunjukkan terdapat 973 titik panas di Kaltim. Sebanyak 443 titik terdeteksi di Kutai Kartanegara dan 436 titik di Paser.
Jika digabungkan, kedua daerah tersebut menyumbang 879 titik panas atau sekitar 90 persen dari total titik panas di Kaltim.
Untuk di Berau memiliki 19 titik panas, terdiri atas 18 titik dengan tingkat kepercayaan sedang dan satu titik dengan tingkat kepercayaan tinggi. Sebaran terbanyak berada di Kecamatan Tabalar dengan enam titik.
Selain Berau, Kutai Timur mencatat 42 titik panas, Kutai Barat 19 titik, Balikpapan enam titik, Samarinda empat titik, serta Bontang dan Penajam Paser Utara masing-masing dua titik. Sementara itu, Mahakam Ulu tidak mencatat titik panas.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena pada waktu yang sama jarak pandang di Berau mengalami penurunan. Data BMKG mencatat jarak pandang pada 5 Oktober berkisar 1,2 hingga 7 kilometer, dengan titik terendah 1,2 km.
“Ini kemungkinan besar merupakan asap kiriman dari wilayah lain yang terjadi karhutla,” tandasnya.
Sementara itu, Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II Kalimarau, Ade Heryadi, menyebut kondisi cuaca Berau pada 5 Oktober juga diwarnai asap, kabut tipis, kabut asap, petir, serta hujan ringan hingga hujan shower.
Suhu maksimum mencapai 33,5 derajat Celsius, meningkat dibandingkan sehari sebelumnya yang tercatat 31,1 derajat Celsius. Sementara itu, kecepatan angin berada pada kisaran 0–15 kilometer per jam dengan arah terbanyak dari barat.
BMKG turut mencatat hari tanpa hujan (HTH) di Berau sepanjang 1–30 September berada pada kategori sangat pendek hingga menengah. Kondisi tersebut membuat potensi kebakaran lahan tetap perlu diwaspadai.
BMKG mengimbau masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan maupun aktivitas lain yang berpotensi memicu karhutla.
“Masyarakat juga diminta memantau perkembangan cuaca dan informasi titik panas melalui kanal resmi BMKG,” imbaunya.
Editor: Erwin






228 kali dibaca

112 kali dibaca
Pusat gempa berada di laut 84 km Utara Ruteng
06 Okt 2026, 10:42:45 WIB • Kedalaman 21 km
Gempa ini dirasakan untuk diteruskan pada masyarakat
Sumber: BMKG