"Memang benar jalur antarkampung tersebut saat ini menjadi jalan alternatif bagi kendaraan roda empat atau lebih selama Jembatan Talisayan ditutup," jelasnya, Kamis (27/10).
Ia mengatakan, jalan yang eksistingnya berupa aspal ini dibangun bertahap sejak tahun 2012 hingga 2017 ini mengalami kerusakan pada bagian ruas penghubung jalan Kampung Suka Murya-Kampung Purnasari Jaya sepanjang 4 kilometer.
Jalur tersebut dinilai memerlukan perbaikan dan perlu penanganan segera mengingat akses ini cukup padat lalu lintasnya dan menghindarkan terjadinya kerusakan yg lebih parah sehingga perlu pembiayaan lebih besar.
"Beberapa waktu kebelakang, terjadi kerusakan pada sebagian ruas jalan tersebut," ucapnya.
Lebih lanjut ia menjelaskan, penanganan yang akan segera dilakukan adalah perbaikan jalan sementara dengan menutup titik kerusakan jalan menggunakan material tanah pilihan dibantu peralatan motorgrader, vibrator roller dan dump truk melalui skema kerja kolaborasi pemerintah dan swasta.
"Tentunya semua pihak harus terlibat dalam menjaga kondisi jalan," tuturnya.
Ia menyebut, peralatan berat dan operator menjadi wewenang dari DPUPR Kabupaten Berau melalui UPTD Pesisir. Sedangkan Bahan Bakar Minyak (BBM), material tanah pilihan dan mobilisasi bantuan dari pihak swasta.
Dikatakan Junaidi, kendala yang pihaknya hadapi saat ini adalah mendapatkan material tanah pilihan sekitar 200 meter kubik yg masih diupayakan bersama pihak Kecamatan Talisayan dari suplier lokal di sekitar lokasi pekerjaan.
"Kita masih mencari material untuk perbaikan jalan," sambungnya.
Pihaknya berencana untuk memobilisasi alat berat dan jika kondisi cuaca mendukung serta material siap diperkirakan sekitar satu minggu pekerjaan perbaikan jalan bisa diselesaikan. Selanjutnya, rencana perbaikan jalan akan diteruskan sesuai instruksi bupati ke lokasi lain seperti Jalan Poros Biatan dan Jalan Poros Batu Putih.
"Kita akan segera melakukan perbaikan jalan agar tidak menggangu aktivitas masyarakat," pungkasnya.
Penulis: Tri Ramadoni
Editor: Supiansyah