Bupati perempuan pertama di Berau ini juga ikut mengangkat perahu panjang menuju Sungai Segah. Sebelum penurunan perahu, dilakukan upacara Palas Parau dilakukan oleh tokoh dan pemangku adat Kesultanan Gunung Tabur.
Tradisi ini telah berlangsung turun temurun dari masa Kerajaan Berau berdiri, baturunan sejatinya memiliki arti serupa gotong royong. Dalam prosesi baturunan, tampak siap para Pamasai mengenakan pakaian hitam putih, lengkap dengan atribut mulai singal, selempang dan imbarrat.
Makna baturunan perahu dari bahasa suku asli Banua adalah menurunkan perahu secara bersama-sama, yang ketika dimaknai dalam sebuah maksud adalah sebagai simbol yang artinya bergotong royong bersama saling tolong menolong tanpa diminta pertolongan sudah ringan tangan untuk menolong.
“Begitu pula dalam kehidupan pemerintahan, kita sama-sama bergotong royong untuk membangun Kabupaten Berau yang merupakan kewajiban kita semua sebagai pelayan untuk masyarakat,” ucap Sri Juniarsih.
Dirinya meminta seluruh pihak untuk menjaga keaslian budaya yang diwariskan oleh para leluhur, jangan sampai hilang ditelan masa, oleh karena itu penting sekali untuk meregenasikan semua budaya ini kepada anak cucu ke depan. “Untuk diketahui, Berau adalah kabupaten yang memiliki kekayaan budaya dan sumber daya alam yang melimpah,” tutup Sri. (*/kk)