Pasalnya, sejumlah moda transportasi menuju objek wisata juga terpaksa menaikkan harga sewa menyesuaikan kenaikan BBM. “Termasuk pelayanan kita sendiri di objek wisata itu, misalnya layanan speedboat antarpulau dan perahu wisata di Labuan Cermin. Semua yang menggunakan BBM itu terpaksa jika harus menaikkan harga untuk menutupi biaya operasional,” kata Gamalis.
Pemkab Berau selalu berupaya meningkatkan kunjungan wisatawan, terlebih sektor pariwisata direncanakan menjadi penopang Pendapatan Asli Daerah (PAD) utama di Bumi Batiwakkal, menggantikan sektor pertambangan batu bara dan perkebunan kelapa sawit.
“Saya harap seluruh pihak lebih konsen terhadap pariwisata karena Berau memiliki surga yang tidak dimiliki daerah lain di Kalimantan. Berau lengkap semuanya, dari wisata alam, budaya, kuliner hingga sejarah semuanya ada tapi belum mampu mengeksplorasi dan mengelola secara maksimal,” ujar Gamalis.
Sementara seorang motoris speedboat penyeberangan pulau wisata Wardhani mengakui efek kenaikan BBM berdampak terhadap tarif jasa penyeberangan. Para motoris terpaksa menaikkan tarif ke Pulau Derawan dari Dermaga Kampung Tanjung Batu yang semula Rp50 ribu menjadi 75 ribu hingga 100 ribu rupiah.
“Berpengaruh untuk kami, karena satu hari pasti minimal untuk beli BBM sebesar Rp200 ribu. Sekarang sudah dijual Rp270 ribu per 20 liter,” jelasnya.
Dalam satu hari, Wardhani bisa tiga kali bolak balik dengan rute Derawan-Tanjung Batu. Satu hari mereka memerlukan dua kali isi BBM. Belum lagi pada masa ramai pengunjung.
“Kalau sekarang masih belum musim liburan, kadang bisa hanya dua kali bolak balik, tapi pasti sudah isi ulang BBM lagi,” papar Wardhani.
Pihaknya juga biasa memberikan diskon atau potongan tarif jika yang menyeberang merupakan warga lokal. Hal tersebut sudah menjadi kesepakatan bersama.
Menurutnya, kenaikan harga BBM bisa memengaruhi harga pangan yang harus disuplai langsung dari Tanjung Redeb dan kecamatan terdekat. “Kalau warga lokal, kita kasih harga yang beda dengan tamu. Mereka juga biasanya punya usaha, ya entah beli sayur dan lain hal. Tidak bisa kami ratakan,” pungkas Wardhani. (*/kk)