Kegiatan itu juga menjadi upaya percepatan agar perbaikan jembatan cepat dilakukan. Lantaran opsi penggunaan kapal feri tidak bisa dilakukan.
“Jembatan ini kami harapkan juga cepat perbaikannya, agar masyarakat bisa aman. Tapi yang harus dipersiapkan alternatif untuk penyeberangan,” kata Gamalis.
Pemkab masih mengupayakan penyebrangan dengan LCT. Tetapi terdapat regulasi yang terbentur untuk penggunaan alat tersebut. Penggunaan LCT diakuinya juga tidak diperuntukkan untuk penyebrangan manusia. “Memang tidak memungkinkan dengan penggunaan feri,” tegasnya.
Kendati begitu, Gamalis menjelaskan alternatif untuk sepeda motor dan orang yakni menggunakan tambangan. Tambangan sendiri merupakan penyebrangan berupa kapal tradisional dan pihaknya mengusahakan untuk tidak dipungut biaya, dalam penyeberangan nantinya. “Kami usahakan untuk penyeberangan memang tidak berbayar,” bebernya.
Untuk per kapal, dapat memuat sebanyak 12 motor dan penumpangan orang. Tetapi pemilik kapal belum bisa mengatur dan membeberkan berapa anggaran yang diperlukan. Nantinya, Pemkab Berau akan menyediakan maksimal 3 unit untuk penyeberangan motor dan orang.
“Nah untuk mobil dan angkutan lainnya itu, masih dicari solusinya,” tegas Gamalis.
Pihaknya jug mencatat waktu ramai penyeberangan diperkirakan terjadi mulai pukul 5 pagi dan pukul 4 sore. Sebab wilayah tersebut, juga di dominasi oleh anak sekolah, PNS, dan beberpaa pekerja lainnya dari pihak perusahaan. Sementara untuk alternatif 24 jam penyebrangan, juga belum dipastikan oleh pihaknya. “Kalau di jam sepi, itu diantara pukul 2 malam hingga 4 pagi,” pungkas Gamalis (*/kk)