Seperti yang diutarakan oleh Hendra (30), warga Jalan Murjani II Tanjung Redeb, yang mengaku ada oknum menawarkan bubuk abate dengan harga Rp5 ribu per bungkus.
“Dia maksa harus beli minimal 6 bungkus,” ungkap Hendra.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinkes Berau, Iswahyudi langsung membantah ada pihaknya yang menjual bubuk abate ke masyarakat. Pasalnya, bubuk abate untuk membasmi jentik nyamuk itu dibagikan gratis melalui puskesmas. “Tidak, itu tidak benar,” tegasnya.
Dinas Kesehatan, lanjut Iswahyudi, tidak pernah mengeluarkan rekomendasi ataupun perintah bagi stafnya untuk menjual bubuk abate, terlebih menawarkan dari pintu ke pintu. Warga bisa meminta langsung ke puskesmas tanpa dipungut biaya.
“Tidak bayar sama sekali, hanya perlu datang saja,” tambahnya.
Bubuk abate sangat efektif memberantas larva nyamuk pembawa penyakit demam berdarah atau malaria. “Tapi tidak diperjualbelikan,” ucapnya menegaskan.
Termasuk untuk fogging atau pengasapan, sempat beredar kabar bahwa kegiatan itu berbayar, padahal gratis. Khususnya untuk wilayah yang rawan demam berdarah. Hal ini tidak dibenarkan.
“Kita akan segera keluarkan edaran mengenai hal ini. Jangan sampai ada warga yang tertipu. Ini menjelekan nama Dinkes,” pungkasnya.
Penulis: */ Tri Romadhoni
Editor: Supiansyah