Ia melanjutkan, sebelumnya obat-obatan untuk pasien disediakan lewat RSUD Abdul Rivai, yang diresepkan oleh pihak Puskesmas lalu disediakan oleh pihak pihak rumah sakit. Kemudian penggunaan obat tersebut diberikan kepada pasien isolasi mandiri. Setelahnya, pihak Dinkes Berau yang akan membayar. Terkait persoalan dana, Iswahyudi mengaku belum bisa dijelaskan lebih lanjut.
“Untuk sementara masih seperti itu skemanya, tapi rencananya diadakan oleh Instalasi Farmasi tersebut.,” sambungnya.
Namun, Iswahyudi menjelaskan, obat tersebut juga tersedia di apotek swasta. Saat ini dan diperjualbelikan, kendati ketersediaan obat tersebut belum masuk dalam ranah mereka. Obat yang berada di apotek, khususnya obat keras boleh didapatkan sesuai dengan resep dokter.
“Bisa dengan resep, tapi untuk multivitamin boleh tanpa resep,” bebernya.
Sedangkan untuk pasien isoman, pihaknya memberikan obat secara gratis berupa antibiotik azithromycin, multivitamin, serta tambahan obat sesuai gejala yang timbul. Seperti obat panas, obat batuk dan lainnya.
“Pemberiannya sementara ini tentu gratis jika dalam pemantauan pihak Puskesmas. Makanya saya ingatkan, kepada masyarakat, harap untuk melapor ya,” ungkapnya.
Ia menegaskan saat ini harga obat yang tersedia tidak melambung tinggi. Lantaran tiap apotek sudah diatur dalam Harga Eceran Tertinggi (HET).
Editor : Bambang Irawan
Berita/artikel ini sudah terbit di Koran Kaltim edisi cetak Kamis tanggal 29 Juli 2021