“Karena pandemi dan memang ini pandemi bencana nasional tentunya juga berimbas pada penjualan aksesoris natal yang agak sedikit turun,” kata Fenny.
“Tapi itu tidak mengurangi semangat orang-orang yang memang merayakan Natal, tetap semangat untuk belanja aksesoris Natal, mencari pernak-pernik walaupun mungkin tidak akan open house, tidak akan saling kunjung mengunjungi, karena pandemi ini,” paparnya.
Penurunan omset penjualan penjualan pernak pernik Natal juga dipengaruhi masih banyak masyarakat Berau yang memanfaatkan pernak-pernik tahun lalu, terlebih tahun ini tidak ada perayaan seperti open house dan sebagainya.
“Karena tidak ada perayaan jadi masyarakat kurang berminat untuk membeli yang baru mereka masih memanfaatkan tahun sebelumnya seperti pohon Natal, tapi aksesoris lainnya tetap ramai pembeli,” jelasnya.
Fenny sendiri menjual beragam aksesoris Natal hingga ada pohon Natal harganya pun beragam untuk pohon natal di bandrol mulai harga Rp70 ribu hingga jutaan rupiah tergantung besar ukuran sementara aksesoris mulai dari harga Rp 20 ribu hingga ratusan ribu rupiah.
Pemerintah kabupaten Berau sendiri tidak melarang pelaksanaan ibadah Natal selama itu tetap mematuhi protokol kesehatan Covid-19, diantaranya memperhatikan kapasitas gedung bisa jaga jarak hingga tetap menggunakan masker.
“Jadi kami tidak melarang melakukan ibadah natal yang kita larang itu ketika itu melanggar protokol kesehatan seperti kumpul-kumpul tidak jaga jarak dan lain sebagainya,” kata Plt Bupati Berau Agus Tantomo beberapa waktu lalu. (*)
Penulis : Indra
Editor: Aspian Nur