Rutaf mengaku terdampak dari aktivitas galian di lahan eks Hotel Tirta Balikpapan. Diakuinya aktivitas itu sudah berlangsung sejak Februari 2021.
“Dirasakan takut roboh. Misal malam saya tidur, tiba-tiba roboh. Kan keluarga saya yang terancam,” kata Rutaf, Senin (19/12).
Rumahnya terletak persis di medan perbukitan yang bersebelahan langsung dengan eks Hotel Tirta. Aktivitas galian C tersebut praktis mengakibatkan getaran yang cukup hebat di rumahnya.
Di samping tanahnya yang terus digerus, membuat retakan semakin masif.
“Saya pindah sekeluarga. 4 orang sama cucu. Ini rumah juga sudah kosong, nggak ada barang-barang lagi,” ungkap Rutaf.
Dia sendiri mengaku tidak tahu-menahu mengenai aktivitas galian tersebut. Tidak ada sosialisasi apapun, hanya tiba-tiba berjalan begitu saja.
“Tahunya pengosongan lahan aja. Nggak kepikiran kalau sampai ada galian,” imbuhnya.
Dia menuturkan, keputusan untuk mengungsi ini bukan hanya dirinya seorang. Kata dia, kurang lebih sudah ada 2 KK. Namun tidak menutup kemungkinan akan terus bertambah.
Rutaf berharap, ada mediasi dengan pihak pengelola lahan agar bisa menemukan jalan tengah terbaik. Mengingat kerugian yang dialami.
Camat Balikpapan Tengah, Edy Gunawan membenarkan bahwa aktivitas tersebut mengganggu masyarakat setempat.
Terkait itu pihaknya sudah berupaya berkoordinasi dengan OPD terkait untuk menangani gangguan dari aktivitas galian tersebut.
“Memang disitu ada kegiatan. Akibatnya itu, salah satunya, pasir-pasir tumpah ke jalan. Itu sudah kita ingatkan,” timpal Edy. (*/Yudi Hadi)
Editor : Rusdi