Penanganan hulu yang dimaksud berupa penerapan PPKM Mikro seperti aktivitas ekonomi yang ditutup pukul 22.00 Wita dikurangi menjadi pukul 21.00 WITA. Bukan berarti kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). “Kebijakan pusat tidak ada arahan untuk PSBB. Berarti daerah nggak bisa berbuat banyak kalau belum ada instruksi dari pusat,” paparnya.
Selain itu, PSBB dinilai sulit dilaksanakan karena Balikpapan masih zona oranye, dimana ada beberapa persyaratan harus dipenuhi termasuk hal-hal yang tak boleh dilakukan dalam suatu daerah. “Balikpapan belum zona merah kan,” ujarnya.
Bahkan dirinya menyebut Jakarta dengan kasus Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) yang tinggi telah memenuhi syarat untuk PSBB. Ibu Kota Republik Indonesia itu telah zona merah. “Banyak faktor yang sudah merah mengarah ke hitam-hitaman belum juga PSBB. Tetap PPKM Mikro,” jelas Fadli.
Salah satu persoalan di hulu adalah mobilitas orang. Balikpapan sebagai kota industri kerap didatangi warga luar daerah. Mayoritas mereka bekerja di berbagai sektor. Ditambah lagi perilaku warga yang gemar mengunjungi pusat keramaian untuk mencari hiburan.
“Itulah yang kita coba batasi. Ada perubahan kalau pintu masuk dan pusat keramaian kedepannya akan semakin masif. Nanti dibawah satgas bagian penindakan Satpol PP,” terangnya.
PPKM Mikro lanjutan ke-9 akan berakhir 4 Juli 2021 mendatang. Satgas Penanganan Covid-19 segera melakukan evaluasi terhadap perkembangan pembatasan kegiatan masyarakat. “Kalau memang situasi kondisi memaksa, bisa saja besok lusa atau beberapa hari ke depan kita revisi kebijakan PPKM mikro itu,” ujar Fadli.
Sebelumnya, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) merekomendasikan PSBB diterapkan hanya saja ditolak oleh Pemerintah Kota Balikpapan karena ada benturan antara kesehatan dengan ekonomi. Cukup resisten atau rawan. “Ya sudah kalau memang tidak bisa tidak apa-apa, yang penting tadi sudah dijelaskan sekda PPKM mikro diperketat,” kata Dradjat Witjaksono selaku Ketua IDI Kota Balikpapan.
Dirinya pun mencurigai Covid varian D telah masuk Madinatul Iman (sebutan Balikpapan). “Karena kasus meningkat drastis,” tutup Fadli.
Penulis: */Hendra
Editor: Aspian Nur