“Kalau tidak salah usulannya itu untuk 1.200-an orang,” kata Andi Sri Juliarty, Rabu (18/11).
Dinas Kesehatan dapat melakukan rapid test apabila dimulai dari guru. Artinya permohonan itu belum bisa diberikan secara penuh. “Inginnya kan semua siswa dan guru di-rapid test. Kami belum tersedia stok,” sebutnya.
Sehingga Dinas Kesehatan akan melakukan koordinasi lanjutan bersama Disdikbud untuk rapid test sebelum simulasi belajar tatap muka dijalankan di sekolah.
Sebelumnya Kepala Disdikbud Kota Balikpapan, Muhaimin mengatakan rapid test sebagai pedoman atau dasar untuk melakukan simulasi belajar tatap muka di sekolah.
“Surat permohonan sudah kami layangkan ke Dinas Kesehatan,” kata Muhaimin pada 16 November lalu.
Rapid test memang menyasar kepada 5 SMP di Kariangau dan Teritip. Dimana kawasan yang berada di kecamatan Balikpapan Barat dan Balikpapan Timur itu berstatus zona kuning.
Kedua kelurahan tersebut paling rendah dalam kasus penyebaran Coronavirus Disease 2019 (Covid-19). “Nanti hasil rapid test kami sampaikan ke Satgas,” ucapnya.
Disdikbud merencanakan simulasi belajar tatap muka di sekolah dimulai pada akhir Desember mendatang. Kendati tetap mengacu pada hasil rapid test dan penerapan protokol kesehatan.
“Simulasi ke SMP karena lebih mudah. Pola pikir siswa mulai berkembang. Kalau murid SD kan masih senang bermain. Jumlahnya juga sangat banyak,” tandas Muhaimin.
Simulasi akan dilakukan dengan penegakan protokol kesehatan secara ketat. Mulai dari pembatasan sampai 50 persen siswa per kelas hingga pembatasan jam belajar.
Penulis : */Hendra
Editor : Bambang Irawan