Namanya memang nasi jangkrik. Tapi, jangan bayangkan kalau nasinya itu pakai menu jangkrik, serangga kerabat dekat belalang yang sering bersuara keras di malam hari. Sama sekali tak ada jangkrik di dalam nasi.
Lauk nasi jangkrik adalah daging sapi atau kambing yang dimasak dengan bumbu rempah dan santan. Jadi rasanya sangat lezat.
Menurut cerita, nama jangkrik telah digunakan oleh Sunan Kudus semasa hidupnya. Dikisahkan, pada suatu hari, Sunan Kudus dan Kyai Telingsing berkumpul di tajug Menara Kudus bersama dengan para wali lainnya.
Sementara, istri Sunan Kudus menyiapkan sebuah masakan yang sekarang populer dengan nama nasi jangkrik sebagai sajian.
Kelezatan hidangan tersebut nyatanya membuat para wali terpikat hingga terdengar suara celetukan. Konon celetukan itu datang dari Kyai Telingsing. “Jangkrik, masakan apa iki, kok enake pol,” demikian kira-kira suara celetukan itu, yang memiliki arti “Jangkrik, masakan apa ini, kok enak sekali.
Dalam masyarakat Jawa, kata “jangkrik” biasa dijadikan sebagai penggambaran semacam pisuhan (makian) tapi lebih halus dan cenderung positif sebagai penghangat suasana.
Celetukan Kyai Telingsing sendiri berarti pujian akan kelezatan masakan hasil olahan istri Sunan Kudus yang sedang disantapnya. Sehingga dari situlah, konon nama nasi jangkrik berasal.
Namun, versi lain menyebutkan bahwa penamaan nasi jangkrik berasal dari bawang goreng yang ditaburkan di atas nasi jangkrik. Sekilas, bawang goreng itu memiliki bentuk mirip sayap jangkrik yang berwarna mengkilap kecoklatan. Maka dari situlah konon masakan itu dinamakan nasi jangkrik.
Nasi jangkrik oleh masyarakat Kudus dijadikan sebagai hidangan yang dibagikan secara gratis kepada sesama saat puncak tradisi buka luwur atau pelepasan kain selubung makam Sunan Kudus yang diadakan pada setiap tanggal 10 Muharram (Asyura).
Luwur merupakan kain kelambu atau selubung penutup makam. Dalam tradisi buka luwur, luwur yang menutupi makam Sunan Kudus diganti baru.
Hingga kini pembagian nasi jangkrik menjadi salah satu bagian dalam tradisi buka luwur yang masih terus dilestarikan. Pembagian nasi jangkrik sendiri bertujuan untuk menumbuhkan rasa saling berbagi terhadap sesama, terutama kepada yang membutuhkan.
Sumber: Okezone
Editor: Maruly Zainuddin