Saat digigit, si pria mengaku penisnya serasa terbakar dan kemudian membengkak, berubah warna menjadi ungu tanda terjadinya nekrosis skrotum atau penyakit pemakan daging. Para ahli yang melaporkan kasus tersebut di Urology Case Reports mengatakan pria itu “mendapat kehormatan” yang tidak menguntungkan karena menjadi kasus medis pertama dari gigitan ular kobra pada alat kelamin.
Pria itu diberikan perawatan darurat di Afrika Selatan tetapi sejumlah besar jaringan di penisnya tidak dapat dipulihkan dan harus dipotong. Sembilan hari kemudian warga negara Belanda itu dipulangkan ke Belanda dengan kondisi banyak jaringan penis mati harus diangkat.
Ahli bedah di negeri Belanda membangun kembali penisnya menggunakan cangkok jaringan yang mereka ambil dari selangkangannya untuk menggantikan jaringan mati yang hilang akibat gigitan ular mematikan itu. Satu tahun setelah kejadian tersebut, si pria dilaporkan telah pulih sepenuhnya baik fungsi maupun sensasi pada penisnya.
Untuk jenis ular kobra yang mematuk penis belum diketahui spesies ular apa karena makhluk itu baru ditemukan pada tahun 2009. Namun petugas medis melaporkan pria tadi mengalami gangguan ginjal sebagai indikasi dari jenis racun yang ditemukan dalam racun ular kobra.
Petugas medis menambahkan gigitan ular biasanya terjadi pada ekstremitas orang namun menggigit alat kelamin relatif jarang. Terkait peristiwa mengerikan ini, para ahli memberikan pesan dan saran bagi mereka yang menuju ke daerah tropis. “Selalu siram toilet sebelum buang air kecil atau air besar saat berada di negara yang terkenal dengan populasi ular,” tulis mereka.
Adapun nekrosis atau yang biasa disebut dengan “penyakit pemakan daging” adalah kondisi yang berpotensi mematikan yang disebabkan oleh bakteri yang menginfeksi jaringan di bawah kulit dan jaringan di sekitarnya.
Bakteri tidak benar-benar memakan daging, tetapi racun yang dilepaskannya merusak jaringan di sekitarnya.
Editor: Aspian Nur