Akademisi Fakultas Kelautan dan Perikanan Unmul, Muchlis, mengatakan spot-spot tersebut dapat menjadi salah satu destinasi selam buat komunitas diving lokal hingga internasional.
Salah satunya spot selam batu lampe besar, salah satu dari 10 titik spot selam. Pihaknya membutuhkan bantuan semua pihak baik untuk proses pengembangan survei dan potensi yang lebih detil dan mempersiapkann SDM untuk pelestariannya.
“Kami akademisi tentu saja menyuplai data-data dan mendorong mahasiswa kami untuk melakukan penelitian-penelitian khususnya tentang ekosistem trumbu karang yang ada di sini, saat ini sudah ada beberapa mengerjakan termasuk rehabilitasi transplantasi terumbu karang, wilayah ini punya potensi,” kata Muchlis kepada Korankaltim.com, Selasa (26/2/2019).
Dari ukuran pertumbuhan karang pascarehabilitasi, lanjutnya, terpantau tumbuh signifikan dengan keberadaan ikan hias di daerah yang dulunya merupakan pecahan karang itu.
“Dan untuk menyelam disini tentu saja mempunyai tantangan dan karakter dan ciri khas yang sangat-sangat spesifik. Salah satunya ada leopard shark ukurannya 2-3 meter namun cukup jinak dan tidak berbahaya. Untuk daerah selamnya itu berupa selop gunung terjal dengan kemiringan 60-90 derajat bahkan beberapa bagian ada yang tegak lurus 90 derajat. Tentunya ini harus sama-sama kita jaga,” pungkasnya.
Penulis: Reza Fahlevi
Editor : Muh. Huldi