Dr Samantha Garrard, seorang ahli ekosistem laut dari Plymouth Marine Laboratory menjelaskan, kerugian yang terjadi dalam 12 bulan ke depan terhadap terumbu karang bisa kritis.
Nasib terumbu karang dunia mungkin bergantung pada siklus air hangat dan dingin di Samudra Pasifik, yang dikenal sebagai El Niño–Southern Oscillation.
“Kita baru saja keluar dari siklus El Niño yang menghancurkan, dimana air hangat mendorong 84 persen terumbu karang dunia ke tingkat paparan panas yang menyebabkan pemutihan,” jelas Garrard melansir dari theconversation Rabu (7/1/2026) hari ini.
Dengan siklus El Niño lain yang diperkirakan terjadi pada 2026, ilmuwan iklim kini khawatir terumbu karang mungkin tidak dapat pulih dari pukulan berikutnya.
“Pertanyaannya adalah apakah tahun ini akan menjadi titik balik global bagi terumbu karang air hangat – titik di mana nasib mereka telah ditentukan, dan bahkan spesies yang paling tangguh pun tidak dapat pulih lagi,' sebut Garrard lagi.
Terumbu karang sejatinya hanya menutupi satu persen permukaan laut, namun mendukung sekitar seperempat dari semua spesies laut.
Namun, habitat luar biasa ini juga sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia. Ketika terumbu karang menjadi terlalu panas, ia mengalami proses yang disebut pemutihan.
Stres akibat panas berlebihan menyebabkan terumbu karang mengeluarkan alga berwarna-warni yang hidup di dalam jaringan tubuhnya, sehingga warnanya menjadi putih.
Jika suhu panas berlangsung terlalu lama, terumbu karang dapat mati dalam peristiwa pemutihan massal yang besar, yang mungkin tidak akan pernah pulih.
Emisi gas rumah kaca manusia telah meningkatkan suhu laut global ke level tertinggi sepanjang sejarah, yang membuat gelombang panas laut ekstrem menjadi jauh lebih intens dan sering.
Suhu rata-rata yang lebih hangat juga membuat terumbu karang lebih sensitif terhadap pengaruh El Niño–Southern Oscillation.
Selama El Niño, suhu permukaan laut di Samudra Pasifik naik setidaknya 0,5°C (0,9°F) diatas rata-rata selama berbulan-bulan, menyebabkan cuaca lebih hangat di seluruh dunia.
Dimasa lalu, tahun-tahun El Niño yang hangat akan diikuti oleh tahun-tahun dengan cuaca lebih dingin selama fase La Niña dari siklus Samudra Pasifik.
Garrard menjelaskan hal ini akan memberi terumbu karang beberapa tahun untuk “beristirahat” dan pulih dari stres. Namun penelitian menunjukkan perubahan iklim membuat El Niño yang hangat menjadi lebih intens dan lebih sering, sementara periode transisi menjadi lebih singkat dan lebih hangat.
“Dengan El Niño lain yang diperkirakan terjadi pada 2026, hanya beberapa waktu setelah yang terakhir, banyak terumbu karang tidak akan memiliki waktu yang cukup untuk pulih. Fase berikutnya ini dapat memicu keruntuhan terumbu karang secara luas,” paparnya.
Kekhawatiran saat ini adalah 2026 akan menjadi 'titik kritis' bagi terumbu karang dunia, artinya mereka telah melewati tingkat gangguan dimana perubahan ekosistem menjadi mendadak dan sulit dibalikkan.
Tahun lalu, Laporan Titik Balik Global Kedua, yang ditulis oleh 160 ilmuwan dari 23 negara, memperingatkan terumbu karang telah melewati titik balik termalnya. Para peneliti memperingatkan pada suhu 1,2°C (2,16°F) di atas rata-rata pra-industri, peristiwa pemutihan massal berulang menjadi tak terhindarkan.
Dengan pemanasan global kini mencapai 1,4°C (2,52°F), titik kritis ini telah terlewati dan ada kemungkinan 99 persen terumbu karang berskala signifikan akan hilang.
Editor: Aspian Nur