Remaja berusia 22 tahun itu menyebut AI sangat bertentangan dengan segala hal yang dirinya lakukan. Dia menciptakan seni furry, gambar hewan dengan karakteristik manusia, menggunakan metode tradisional dan digital seperti komputer tablet.
Generative AI, yang menggunakan prompt teks untuk menciptakan gambar, video dan musik, sebelumnya tidak menjadi masalah baginya karena dia menganggapnya hanya omong kosong.
Namun seiring dengan peningkatan kualitas hasilnya, situasinya berbeda.
"Saya mulai khawatir karena sudah sampai pada titik dimana saya tidak bisa membedakan mana seni AI dan mana yang bukan. Banyak orang yang bukan seniman, mereka benar-benar tidak bisa membedakannya. Itulah yang menurut saya paling menakutkan," ungkap Belarbi melansir dari laman apnews.com Selasa (9/12/2025) hari ini.
Apa yang terjadi saat ini membuat Belarbi berhenti mengandalkan pendapatan atau komisi sebagai sumber penghasilan utamanya lewat gambar karena orang-orang bisa membuat apa saja yang mereka inginkan dengan AI. Sebagai gantinya untuk mencoba mencari nafkah Belarby beralih ke menulis buku tentang cara menggambar. "Ini adalah mata pencaharian saya yang dipertaruhkan, dan juga mata pencaharian banyak orang lain," tegasnya.
Belarbi khawatir seniman muda bisa putus asa terutama mereka yang bekerja di media digital. Baginya, seni tentang pengalaman hidup orang-orang dan jumlah jam dan energi yang dibutuhkan untuk menciptakan sesuatu yang hebat bukan sesuatu yang dihasilkan dengan prompt seperti yang saat ini banyak dilakukan.
Sementara JP Allard memiliki pandangan berbeda. Pria berusia 67 tahun itu yakin kalau seniman Renaissance Michaelangelo masih hidup juga pasti sedang mencoba-coba kecerdasan buatan saat ini.
Allard mengelola agen video komersial tradisional di Milton Keynes hingga sekitar setahun yang lalu dan saat dia sakit memilih menonton YouTube, melihat potensi AI dan memutuskan perusahaannya harus beralih ke AI. "Ini benar-benar sebuah kesempatan emas untuk ikut dalam gelombang baru ini," ujar Allard.
Perusahaannya, MirrorMe, kini menggunakan AI untuk menciptakan digital twins atau replika video untuk klien yang dapat mewakili bisnis mereka dalam 175 bahasa serta iklan yang sepenuhnya dihasilkan oleh AI. Namun ada masalah dengan para karyawannya yang menolak perubahan dan kini tidak lagi bekerja untuknya karena AI.
"Masalahnya adalah kecepatan perubahan. Dulu, kami punya lima atau enam tahun untuk mengganti mesin ketik dengan pemroses kata dan komputer pribadi. Sekarang hal itu terjadi dalam hitungan bulan," ungkapnya
Produk MirrorMe menggantikan setiap bentuk media korporat, tanpa banyak biaya produksi, pengambilan gambar dan pasca produksi serta jauh lebih murah dan cepat daripada videografi tradisional. "Itu autentik, memiliki jiwa dan memiliki emosi," ucap Allard lagi.
Musisi Ross Stewart asal Norwich melihat kekhawatirannya tentang AI menjadi kenyataan ketika ibunya mengirimkan sebuah album untuk didengarkannya. "Kami sangat menyukai musik di keluarga kami, jadi kami sering berbagi musik," kenangnya.
"Ibuku mengirimkan album itu dan berkata belum pernah mendengarnya sebelumnya. Ternyata itu adalah album AI bergenre blues dan merupakan satu dari sekitar 30 album yang dirilis tahun ini,” ungkap pemuda 21 tahun itu.
AI dapat digunakan untuk menulis lirik, yang menurutnya adalah penghinaan. "Aku akan berjuang, tapi aku akan menulis lagu itu sendiri," tegasnya.
Stewart percaya output AI semakin baik dan bisa mulai mengancam pekerjaan orang dan mengancam mata banyak orang.
Namun Stewart, yang baru saja menyelesaikan tur pertamanya di Inggris menambahkan kalau banyak orang sebenarya mendambakan keaslian. "Orang-orang ingin pergi ke konser dan ingin melihat orang sungguhan memegang gitar," ucapnya.
Niki Tibble, seorang penulis iklan yang kembali bekerja tiga tahun setelah melahirkan anak-anaknya menemukan fakta kalau AI telah mengambil alih peran selama dirinya tak beristirahat. "Ini menjadi kekhawatiran jika pekerjaan saya masih ada dalam 10 tahun ke depan,” ucap Niki.
Editor: Aspian Nur