Ada satu perbedaan krusial antara McCann dan musisi tradisional. “Saya sama sekali tidak memiliki bakat musik,” ungkap McCann melansir dari laman apnews.com Rabu (3/9/2025) hari ini. “Saya tidak bisa bernyanyi, tidak bisa memainkan alat music dan sama sekali tidak memiliki latar belakang music,” ucapnya lagi.
Pria berusia 37 tahun itu yang memiliki latar belakang sebagai desainer visual itu mulai bereksperimen dengan AI untuk melihat apakah teknologi tersebut dapat meningkatkan kreativitas dan menghidupkan lirik-lirik yang sudah dibuatnya.
Bulan lalu McCann menandatangani kontrak dengan label rekaman independen Hallwood Media setelah satu lagunya meraih 3 juta streaming, yang diklaim sebagai kali pertama sebuah label musik menandatangani kontrak dengan pencipta musik AI.
McCann adalah contoh bagaimana alat pembuat lagu AI bergaya ChatGPT seperti Suno dan Udio, dua platform AI, telah memicu gelombang musik sintetis. Gerakan ini paling menonjol ditandai oleh grup fiktif Velvet Sundown yang viral meskipun semua lagunya, lirik dan artwork albumnya dibuat oleh AI.
Hal ini memicu perdebatan tentang peran AI dalam musik dan menimbulkan kekhawatiran tentang “AI slop”, konten berkualitas rendah yang dihasilkan secara otomatis dan diproduksi massal. Hal ini juga menyoroti generator lagu AI yang mendemokratisasi pembuatan lagu namun mengancam akan mengganggu industri musik.
Para ahli mengatakan AI generatif akan mengubah dunia musik. Namun hingga saat ini sedikit detail tentang bagaimana hal itu mempengaruhi pasar musik rekaman global senilai $29,6 Miliar, setara dengan Rp500 Triliun, yang mencakup sekitar $20 Miliar, sekitar Rp330 Triliun, dari streaming.
Data paling andal berasal dari layanan streaming musik Deezer, yang memperkirakan 18 persen lagu yang diunggah ke platformnya setiap hari dihasilkan sepenuhnya oleh AI, meskipun hanya menyumbang sebagian kecil dari total streaming namun menunjukkan sedikit orang yang benar-benar mendengarkannya. Platform streaming besar lainnya seperti Spotify belum merilis data apa pun tentang musik AI.
Udio menolak berkomentar mengenai jumlah pengguna yang dimilikinya dan jumlah lagu yang telah dihasilkan. Suno tidak merespons permintaan komentar. Keduanya menawarkan tingkat dasar gratis serta tingkat pro dan premium yang memberikan akses ke model AI yang lebih canggih.
“Ini benar-benar booming. Ini seperti tsunami,” kata Josh Antonuccio, direktur Sekolah Seni dan Studi Media Universitas Ohio.
Jumlah musik yang dihasilkan oleh AI hanya akan terus meningkat secara eksponensial seiring dengan pertumbuhan generasi muda bersama AI dan semakin nyaman menggunakannya.
Namun AI generative dengan kemampuannya menghasilkan konten yang tampaknya unik, telah memecah belah dunia musik, dengan musisi dan kelompok industri mengeluh karya rekaman dimanfaatkan untuk melatih model AI yang menggerakkan alat pembuat lagu.
Label rekaman berusaha menangkis ancaman yang ditimbulkan oleh startup musik AI terhadap aliran pendapatan mereka, sambil berharap dapat memanfaatkannya untuk pendapatan baru, sementara artis rekaman khawatir hal itu akan merendahkan nilai kreativitas mereka.
Tiga perusahaan rekaman besar, Sony Music Entertainment, Universal Music Group dan Warner Records, mengajukan gugatan hukum tahun lalu terhadap Suno dan Udio atas pelanggaran hak cipta. Pada bulan Juni 2025 kedua belah pihak dilaporkan juga memasuki negosiasi yang dapat melampaui penyelesaian gugatan dan menetapkan aturan tentang bagaimana artis dibayar ketika AI digunakan untuk meremix lagu-lagu mereka.
GEMA, sebuah organisasi pengumpul royalti musik Jerman telah menggugat Suno, menuduhnya menghasilkan musik yang mirip dengan lagu-lagu seperti “Mambo No. 5” oleh Lou Bega dan “Forever Young” oleh Alphaville.
Lebih dari 1.000 musisi termasuk Kate Bush, Annie Lennox, dan Damon Albarn merilis album diam untuk memprotes perubahan yang diusulkan pada undang-undang AI di Inggris yang mereka khawatirkan akan mengikis kendali kreatif mereka. Di sisi lain, seniman lain seperti will.i.am, Timbaland dan Imogen Heap telah menerima teknologi ini.
Beberapa pengguna mengatakan perdebatan ini hanyalah pengulangan argumen lama tentang teknologi baru yang pada akhirnya menjadi umum digunakan, seperti AutoTune, drum machine, dan synthesizer.
Orang-orang mengeluh, “Kamu menggunakan komputer untuk melakukan semua pekerjaanmu. Saya tidak melihatnya seperti itu. Saya melihatnya sebagai alat lain yang kita miliki,” kata Scott Smith, pendiri band AI Pulse Empire yang terinspirasi oleh grup-grup Inggris era 1980-an yang mengandalkan synthesizer seperti New Order dan Depeche Mode.
Lukas Rams, seorang warga Philadelphia yang membuat lagu untuk band AI-nya Sleeping With Wolves, mengatakan lirik AI cenderung “sangat klise” dan tidak sekreatif manusia, tetapi dapat membantu memulai proses penulisan. “Ia akan membuat skema rima dasar dan terus mengulang struktur yang sama,” kata Rams.
Rams dulu bermain drum di band sekolah menengah dan berkolaborasi dengan saudaranya dalam membuat lagu-lagu mereka sendiri, tetapi pekerjaan dan kehidupan keluarga mulai memakan waktu lebih banyak.
Para pencipta berharap AI juga akan menjadi bagian dari dunia musik mainstream. “Saya pikir kita sedang memasuki dunia di mana siapa pun, di mana pun, bisa menciptakan hits besar berikutnya,” kata McCann lagi.
“Seiring AI semakin diterima sebagai bentuk seni musik, saya pikir hal ini membuka kemungkinan bagi musik AI untuk masuk ke dalam chart,” pungkasnya.
Editor: Aspian Nur