Asteroid ini sebenarnya adalah satu diantara lima asteroid yang akan melewati Bumi dalam jarak dekat oleh Jet Propulsion Laboratory (JPL) atau Laboratorium Propulsi Jet NASA pekan depan.
Dua asteroid lainnya, keduanya berukuran antara 100 dan 200 kaki, diproyeksikan akan melesat dari Bumi lebih dari satu juta mil tiga hari setelah 2025 OW melintas yaitu tanggal 31 Juli. Asteroid kecil lainnya diperkirakan akan melewati planet Bumi awal Agustus, tepatnya pada tanggal 2.
Namun 2025 OW adalah yang terbesar dari kelompok asteroid yang mengancam dan juga akan berada jauh lebih dekat untuk menabrak bumi empat hari lagi.
Batu angkasa tersebut telah diukur panjangnya sekitar 210 kaki, sehingga sebanding dengan bangunan 15 lantai atau pesawat terbang besar. Jaraknya yang diproyeksikan sebesar 393.000 mil akan menempatkannya tepat di luar bulan, yang mengorbit Bumi sejauh 239.000 mil.
Meskipun NASA telah menyatakan 2025 OW tidak menimbulkan resiko saat ini, mereka mencatat asteroid sebesar ini dapat menyebabkan kerusakan struktural kecil atau memecahkan jendela jika memasuki atmosfer di atas area berpenduduk.
Para astronom mengkategorikan 2025 OW sebagai asteroid berukuran kecil hingga sedang yang berarti asteroid ini bukan “pembunuh planet” yang akan menyebabkan peristiwa kepunahan massal di Bumi.
Asteroid jenis ini umumnya meledak di atmosfer dan tidak mencapai permukaan Bumi karena panas dan tekanan gesekan yang intens yang diberikan pada batuan saat memasuki Bumi dengan kecepatan tinggi.
Para ilmuwan mengatakan 2025 OW melaju dengan kecepatan sekitar 47.000 mil per jam, yang merupakan kecepatan rata-rata untuk near-Earth asteroid (NEA) atau asteroid dekat Bumi.
Sebagai perbandingan, asteroid 2024 MK sepanjang 500 kaki melaju dengan kecepatan sekitar 34.000 mph ketika berada dalam jarak 184.000 mil dari Bumi Juli 2024 tahun lalu.
Sementara itu, 99942 Apophis yang sangat besar, berukuran 1.100 kaki, melaju dengan kecepatan 67.000 mph dan diperkirakan akan berada dalam jarak 20.000 mil dari Bumi pada 13 April 2029.
Dengan panjang hanya 210 kaki, asteroid ini tidak akan terlihat dengan mata telanjang atau melalui teropong saat mencapai titik terdekatnya dari Bumi.
Dalam hal pelacakan asteroid yang berpotensi berbahaya, perhitungan NASA biasanya tepat, yang berarti kesalahan besar yang menyebabkan 2025 OW bertabrakan dengan bumi kecil kemungkinan terjadi.
Center for Near-Earth Object Studies (CNEOS), Pusat Studi Objek Dekat Bumi NASA JPL menggunakan teleskop berbasis darat dan sistem radar planet seperti Radar Tata Surya Goldstone untuk mendeteksi dan melacak asteroid. Sistem ini mengukur posisi, kecepatan dan kecerahan asteroid untuk menentukan orbit dan ukurannya.
Sementara NASA terus memantau asteroid-asteroid kecil yang terlihat ini, para ilmuwan baru-baru ini meningkatkan kewaspadaan tentang objek berbahaya yang mendekati planet kita dari 'sisi buta' bintang kita.
Sebuah studi terbaru memperingatkan Venus menghalangi pandangan terhadap banyak asteroid dekat Bumi, batuan luar angkasa besar yang melintasi atau mendekati orbit Bumi, sehingga menimbulkan potensi dampak dahsyat yang tak terduga.
Para peneliti dari Brasil, Perancis dan Italia menemukan fakta beberapa asteroid yang sinkron dengan orbit Venus sangat sulit dideteksi karena seringkali tersembunyi oleh silau matahari. Tiga asteroid khususnya, 2020 SB, 524522, dan 2020 CL1, memiliki orbit yang membawa asteroid-asteroid ini ke jarak yang sangat dekat dengan Bumi.
Tiga asteroid yang terbang bersama Venus berdiameter antara 330 dan 1.300 kaki, sehingga masing-masing asteroid mampu meratakan seluruh kota dan memicu kebakaran besar serta tsunami.
Editor: Aspian Nur