Penelitian dari dua dekade lalu menunjukkan bebatuan tersebut mungkin berusia 4,3 miliar tahun, menempatkannya pada periode paling awal dalam sejarah Bumi.
Namun, ilmuwan lain yang menggunakan metode penanggalan yang berbeda menentang temuan ini, dengan alasan kontaminan yang terjadi di masa lampau telah memiringkan usia batu-batu tersebut dan usianya sedikit lebih muda, yaitu 3,8 miliar tahun.
Dalam studi baru ini, para peneliti mengambil sampel bagian batuan yang berbeda dan memperkirakan usianya dengan menggunakan dua teknik penanggalan sebelumnya.
Mereka mengukur bagaimana satu elemen radioaktif meluruh menjadi elemen radioaktif lainnya dari waktu ke waktu. Hasilnya, batuan itu diperkirakan berusia sekitar 4,16 miliar tahun.
“Metode yang berbeda memberikan usia yang sama persis,” kata penulis studi Jonathan O'Neil dari University of Ottawa melansir dari apnews.com Jumat (27/6/2025) pagi ini.
Penelitian baru ini diterbitkan hari ini di jurnal Science. Bumi terbentuk sekitar 4,5 miliar tahun yang lalu dari awan debu dan gas yang runtuh segera setelah tata surya terbentuk.
Batuan purba sering meleleh dan didaur ulang oleh lempeng tektonik yang bergerak di Bumi, sehingga sangat jarang ditemukan di permukaan saat ini. Para ilmuwan telah menemukan batuan berusia 4 miliar tahun dari formasi lain di Kanada yang disebut Kompleks Acasta Gneiss, tapi batuan Nuvvuagittuq bisa jadi lebih tua lagi.
Mempelajari batuan dari sejarah awal Bumi dapat memberikan gambaran sekilas tentang bagaimana planet ini dulu terbentuk, bagaimana lautan magma yang bergolak memberi jalan kepada lempeng tektonik dan bahkan bagaimana kehidupan dimulai.
“Memiliki sampel tentang apa yang terjadi di Bumi pada masa lalu adalah sesuatu yang sangat berharga,” kata Mark Reagan dari University of Iowa, yang mempelajari batuan vulkanik dan lava, namun tidak terlibat dalam penelitian baru ini.
Formasi batuan tersebut berada di tanah suku Inukjuak dan masyarakat Inuit setempat untuk sementara waktu melarang para ilmuwan untuk mengambil sampel dari situs tersebut karena kerusakan akibat kunjungan sebelumnya.
Setelah beberapa ahli geologi mengunjungi situs tersebut, bongkahan batu yang besar hilang dan masyarakat melihat ada beberapa bagian yang dijual secara online, kata Tommy Palliser, yang mengelola lahan tersebut dengan Pituvik Landholding Corp.
Masyarakat Inuit ingin bekerja sama dengan para ilmuwan untuk mendirikan taman provinsi yang akan melindungi lahan tersebut dan memungkinkan para peneliti untuk mempelajarinya.
“Ada banyak ketertarikan terhadap bebatuan ini, dan kami mengerti,” kata Palliser, salah satu anggota komunitas. “Kami hanya tidak ingin ada kerusakan lagi,” ujarnya.
Editor: Aspian Nur