Dalam sebuah pemberitahuan kepada pengguna, tim TikTok Notes mengatakan aplikasi itu akan berhenti pada 8 Mei mendatang dan semua fitur terkait tidak akan tersedia lagi.
Keputusan untuk menutup Notes ini tidak dibuat dengan mudah karena tim sebelumnya sudah menyarankan pengguna mereka untuk mencoba perusahaan saudaranya, Lemon8.
Lemon8 adalah satu diantara beberapa platform media sosial yang digunakan oleh pengguna TikTok yang berbasis di Amerika Serikat selama pelarangan singkat aplikasi ini di negara tersebut.
Diketahui TikTok sempat dilarang selama sekitar 12 jam pada 19 Januari 2025 lalu sebelum layanan dipulihkan melalui perintah eksekutif yang ditandatangani oleh Presiden Donald Trump.
Perintah tersebut menunda pelarangan selama 75 hari, sambil menunggu penjualan divisi TikTok di Amerika Serikat kepada pembeli non-China. Para penawar dilaporkan menumpuk untuk aplikasi ini yang meledak popularitasnya selama pandemi Covid-19.
Menurut berbagai lpaporan, Amazon disebut-sebut akan ikut serta begitu juga dengan sebuah konsorsium yang dipimpin oleh pendiri OnlyFans, Tim Stokely. Pemilik Tesla Elon Musk, pemilik Los Angeles Dodgers Frank McCourt dan Kevin O'Leary dari Shark Tank juga termasuk di antara para pelamar potensial yang hendak membeli TikTok.
YouTuber populer MrBeast yang bernama asli Jimmy Donaldson juga disebut-sebut akan bergabung dengan perusahaan raksasa perangkat lunak Microsoft dan Walmart itu dan TikTok memiliki waktu sampai hari ini untuk memilih pembeli atau menghadapi larangan di AS. Trump sebelumnya mengatakan, sebuah kesepakatan sangat dekat untuk dicapai dan banyak investor yang terlibat.
Diketahui, TikTok yang dimiliki oleh raksasa teknologi China ByteDance dibatasi peredarannya di negara-negara lain. Selain AS, Inggris, Uni Eropa, Australia, Selandia Baru, Kanada dan Taiwan telah melarang orang-orang yang bekerja untuk lembaga pemerintah menggunakan TikTok diperangkat staf mereka.
Pada tahun 2020, India melarang platform ini dan lusinan aplikasi China lainnya setelah memperingatkan data pengguna ditambang dan diprofilkan oleh elemen-elemen yang memusuhi keamanan nasional dan pertahanan India. India kemudian menjadikan larangan tersebut permanen pada Januari 2021 sehingga tak ada aplikasi TikTok disana.
Sementara pihak berwenang di negara Pakistan telah memberlakukan sejumlah larangan sementara selama bertahun-tahun dengan alasan kekhawatiran tentang “konten yang tidak bermoral dan tidak senonoh yang ditampilkan TikTok.
Indonesia sempat melarang aplikasi ini untuk sementara waktu pada tahun 2018 karena alasan yang sama, tetapi mencabut larangan sepekan kemudian setelah aplikasi ini setuju untuk menyensor konten tertentu. Nepal juga melarang aplikasi ini pada tahun 2023, sebelum mencabut larangannya pada bulan Agustus 2024.
Bagaimana sebenarnya awal TikTok dilarang di Amerika Serikat? Diberitakan sebelumnya, perusahaan induk TikTok di China, ByteDance dilarang karena masalah keamanan nasional.
Pada April 2024 tahun lalu, Presiden Joe Biden menandatangani undang-undang yang memberi ByteDance waktu 9 bulan untuk mendivestasikan TikTok karena kekhawatiran pemerintah China dapat memata-matai orang Amerika dan memanipulasi konten di TikTok.
Namun setelah memenangkan pemilu, Presiden Donald Trump memperpanjang tenggat waktu penjualan hingga 5 April. Jika ByteDance tidak menjual TikTok kepada pembeli yang disetujui pemerintah pada tenggat waktu tersebut, toko-toko aplikasi atau Playstore di Android akan dipaksa untuk berhenti mendistribusikan atau memperbarui TikTok.
Perusahaan seperti Apple dan Google dilarang membantu menjaga kelangsungan hidup TikTok yang secara tak langsung memaksa aplikasi tersebut mati.
Meskipun kemungkinan tidak akan dihapus dari ponsel namun TikTok akan perlahan-lahan mengalami penurunan kualitas tanpa pemeliharaan dan akhirnya tidak dapat digunakan lagi alias mati.
Editor: Aspian Nur