Para ahli ingin menggunakannya untuk membuat versi virtual kerabat yang sudah tiada. Namun keluarga tersebut harus membantu mengaturnya sebelum mereka mati agar berfungsi dengan baik.
Mereka perlu menghabiskan tujuh jam di depan kamera agar AI dapat mempelajari bagaimana suara dan gerakan orang yang ingin berkomunikasi dengan keluarga yang sudah meninggal dunia.
Untuk alasan itu, hal ini mungkin ideal bagi mereka yang memiliki penyakit mematikan seperti jantung, yang ingin dikenang dalam keadaan sehat saat wafat. Mereka harus menuliskan banyak kenangan dan hal-hal tentang kehidupan mereka sehingga teknologi AI dapat berbicara tentang peristiwa kehidupan nyata yang terjadi.
Ada pro kontra dibalik proyek yang disebut Re;memory ini. Joseph Murphy, dari perusahaan DeepBrain AI Korea Selatan mengatakan kepada Mail Online kalau mereka telah menemukan teknologi ini bakal popular.
"Beberapa orang menyukai kesempatan untuk hidup selamanya dengan cara ini, tetapi banyak orang menganggapnya tidak autentik,” kata Murphy Selasa (10/1/2023) hari ini.
"Orang-orang seperti itu, mereka dapat berbagi kenangan mereka setelah mereka pergi dan mereka ingin keluarganya mengingat mereka tetap dalam keadaan sehat," imbuhnya.
Berbicara tentang apa yang mungkin dikatakan kepada replika virtual nantinya orang virtual tersebut akan dapat menceritakan kisahnya secara lengkap. "Semakin banyak mereka membuat jurnal, semakin realistis pengalaman itu," ungkap Murphy.
Menyiapkan replika virtual diperkirakan menelan biaya antara £10.000 / $12.000 dan £20.000 / $24.000 yang kalau dikalkulasikan jadi rupiah nilainya mencapai ratusan juga rupiah. Layanan ini sudah sampai di Asia dan Amerika Serikat dan akan diluncurkan di Inggris dalam waktu dekat.
Situs web DeepBrain AI menunjukkan bagaimana seorang pria memutuskan untuk menggunakan Re;memori untuk putrinya setelah kehilangan ibunya sendiri di usia sangat muda dan berhasil.
Editor: Aspian Nur