Tim berharap pemulihan populasi Paus Sirip juga dapat membantu mendukung pemulihan organisme laut lainnya di daerah tersebut. Paus Sirip adalah spesies paus terbesar kedua setelah Paus Biru dan diburu secara massif selama abad kesembilan belas.
Pemburu paus tidak menargetkan mereka pada awalnya, karena mereka adalah perenang cepat dan hidup di habitat laut terbuka sehingga para pemburu kesulitan mengejar paus ini. Tetapi, ketika metode perburuan paus dimodernisasi dengan kapal bertenaga uap dan tombak peledak dan pemburu paus berhasil menghancurkan spesies lain yang mudah ditangkap, perburuan pun beralih ke Paus Sirip.
Sayangnya, pada saat perburuan Paus Sirip dilarang pada tahun 1976, diperkirakan sudah lebih dari 700 ribu paus terbunuh. Dalam studi tersebut, tim menggunakan survei helikopter dan rekaman video untuk mengumpulkan data tentang kelimpahan paus sirip di Antartika pada April 2018 dan Maret 2019.
Mereka mencatat 100 kelompok Paus Sirip dengan ukuran kelompok mulai dari satu hingga empat ekor. Tim juga melihat delapan kelompok besar yang luar biasa yang terdiri dari hingga 150 paus, yang tampaknya aktif memberi makan.
Ini mengejutkan para peneliti, yang sebelumnya hanya mengamati Paus Sirip yang memberi makan dalam kelompok yang terdiri dari maksimal 13 ekor. Secara khusus, para peneliti mencatat hotspot Paus Sirip di sekitar Pulau Gajah dengan perkiraan 3.618 ekor per kilometer persegi.
Penampakan ini menunjukkan Paus Sirip akhirnya pulih di perairan Antartika. "Bahkan jika kita masih belum tahu jumlah total Paus Sirip di Antartika, karena kurangnya pengamatan simultan, ini bisa menjadi pertanda baik, hampir 50 tahun setelah larangan perburuan paus komersial, populasi paus sirip di Antartika pulih," kata Profesor Meyer.
Temuan ini menjanjikan bagi ekosistem laut yang lebih luas, menurut para peneliti. Kotoran paus adalah sumber nutrisi yang kaya termasuk zat besi dan bisa jadi pupuk untuk mikroalga di dalam air. Pada gilirannya, fitoplankton adalah sumber makanan utama untuk krill atau hewan berbentuk udang yang kecil.
"Ketika populasi paus tumbuh, hewan-hewan itu mendaur ulang lebih banyak nutrisi, meningkatkan produktivitas di Samudra Selatan," kata Profesor Meyer.
“Itu meningkatkan pertumbuhan alga, yang sebagian menyerap karbon dioksida dari atmosfer melalui fotosintesis, mengurangi konsentrasi CO2 atmosfer,” imbuhnya.
Paus Sirip mendapatkan namanya dari sirip yang mudah dikenali di punggung dekat ekornya. Untuk waktu yang lama diyakini, selain Paus Sirip, paus lain juga mengeluarkan suara seperti bernyanyi menandakan mereka ingin kawin. Para ahli menyebut nyanyian paus membantu mamalia menjelajahi lingkungan mereka.
Para peneliti merekam Paus Bungkuk mengubah panggilan mereka ketika mereka pindah ke habitat baru untuk mencocokkan nyanyian dengan hewan lain disekitar mereka yang bisa membantu paus saling menentukan dan mengelompokkan bersama dengan lebih baik ketika berada di perairan yang tidak dikenal.
Sulit bagi para ilmuwan untuk mempelajari bagaimana paus bernyanyi atau mengetahui kapan mereka mengeluarkan suara, karena binatang ini sejatinya pemalu terkenal sulit untuk diamati, dan setiap spesies bersuara secara berbeda.
Paus bungkuk bernyanyi menggunakan lipatan di kotak suara yang bergetar pada frekuensi rendah saat udara didorong di atasnya. Mereka memiliki kantung udara khusus yang bersebelahan dengan akord vokal ini yang terhubung ke paru-paru.
Ini memungkinkan paus untuk melewati udara di antara paru-paru mereka, kantung dan akord vokal tanpa kehilangan pasokan udara mereka yang berharga. Studi ini sendiri sudah diterbitkan dalam Scientific Reports.
Editor: Aspian Nur